“Anak Rimba yang Malang”

Cerpen : Candra Wijaya
(Siswa MTs NW Boro'tumbuh)


Ilustrasi by : Candra Wijaya

Saat itu matahari mulai tenggelam. Burung-burung terbang ke sarang. Para petani dan buruh pulang melepas lelah. lalu gelap mulai menerkam sebuah perkampungan yang terletak di tepi hutan. 

Terlihat sepasang suami isteri duduk ditemani lampu minyak yang manyala. Selesai menyantap hidangan malam, mereka berbincang. Kadang mengeluhkan keadaan yang selama ini menimpa mereka. 

“Kita harus banyak bersabar Tik. Lima belas tahun kita menikah namun sampai sekarang belum juga dikaruniai anak.”

“Ya Mas, mungkin ini sudah suratan takdir. Padahal saya sangat ingin menimang bayi. Tapi mungkin juga belum saatnya.”

Begitulah, mereka selalu berusaha menghibur diri mereka dengan kata sabar. Karena cuma itu yang membuat hati mereka menjadi sedikit tenang.

Esok hari saat matahari masih gelap. Seusai salat subuh sang suami pergi ke hutan. Rencananya ia mau mencari kayu bakar. Namun tiba-tiba saja ia mendengar suara anak harimau yang menangis. Laki-laki itu mengendap di rimbunan semak. Lama ia perhatikan anak harimau itu. Sampai matahari mulai terbit anak harimau itu masih menangis. Namun induk semangnya belum juga datang. Lalu laki-laki itu bermaksud untuk memabawanya harimau itu pulang.

Sampai di rumah ia langsung memperlihatkan anak harimau itu kepada sang isteri. Sang isteri pun sangat senang. Sang isteri langsung mengambilkannya makanan. 

Semenjak itulah kedua pasang suami isteri itu memelihara anak harimau. Anak harimau itu ibarat anak mereka sendiri. Mereka memelihara anak harimau itu hingga tumbuh menjadi dewasa.

Berkat kesabaran mereka satu tahun berikutnya mereka pun dikaruniai seorang anak. Mereka sangat bahagia sekali. Kini mereka memiliki dua anak. Satunya harimau, dan satunya lagi manusia yang merupakan anak mereka sendiri. 

Saat pagi tiba, seperti biasa mereka pergi ke ladang. Ladang iu tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka. Sepasang suami isteri itu menitipkan bayi mereka pada harimau yang sudah jinak itu. Sang harimau biasanya selalu sabar menjaga bayi mereka dirumah. Dan sang bayi pun senang ditemani oleh harimau.

Tak lama kemudian tiba-tiba saja ular sawah naik ke atas tempat tidur sang bayi. Sementara harimau yang sedikit mengantuk sangat terkejut dan langsung melepaskan ular yang berusaha melilit tubuh sang bayi. Dengan sigap harimau mencengram tubuh ular yang sangat besar itu. Ular itu pun menghindar dan mengamuk. Pertarungan sengit anara harimau dan ular pun terjadi.

Akhirnya harimau itu mampu mengalahkan ular besar itu. Tubuh ular itu tercabik –cabik oleh hariamua. Hingga mulut harimau berlepotan darah.

Lalu sang harimau bermaksud memanggil orang  tua angkatnya yang masih berada di ladang. Ia berlari dengan kencang. Setiba di ladang ia menggerak-gerakkan kepalanya di depan ayah dan ibu angkatnya itu. Sebagai isyarat supaya mereka segera pulang.
Sang  suami pun terlihat cemas. Namun setelah melihat mulut sang harimau yang belepotan darah. sang suami menaruh curiga.

“Apa yang telah dilakukan oleh harimau itu Tik,? Coba lihat mulutnya penuh dengan darah.”

“Ya, tidak biasanya dia seperti itu, mungkin dia memakan anak kita.”

“Apa! Dasar harimau sialan!”

Lalu tanpa berpikir panjang sang suami melibaskan parangnya tepat di leher harimau itu. sang harimau menjerit kesakitan. Namun harimau itu tetap diam. Ia tidak melawan. Sekali lagi parang yang mengkilat  itu kembali mendarat di lehernya. Hingga ketiga kalinya leher harimau itu pun hampir saja terputus. Lalu harimau itu menghembuskan nafas terakhirnya. Ditatapnya orangtua angkatnya itu dengan senyum tulus. Lalu air mata harimau itu mengalir, sampai akhinrya menutup mata untuk selamanya.

“Dasar harimau tak tau diuntung. Mampus kau.”

“Sudah Mas, ayo kita lihat anak kita.”

Angin pun tiba-tiba meraung dan merontokkan daun-daun. Ranting-ranting melayang ke udara. Dan dahan-dahan mulai patah. Bahkan sebagian pohon ada yang tumbang.

Sepasang suami isteri itu tidak peduli dengan apa yang terjadi. Ia ingin segera melihat bayi mungil mereka. 

Setiba di rumah ia langsung mendekap bayi itu. Sang ibu mengira bayi itu sudah mati. Namun ternyata nafasnya masih normal. Lalu bayi itu terbangun dari tidurnya. Tak sedikit pun terlihat darah di tubunya. 

Kemudian sang suami melihat seekor ular mati yang tergeletak tidak jauh dari tempat itu. Tubuh ular itu hampir hancur. Lalu sang suami merenung sejenak. Dan tak kuasa ia menahan air matanya yang tumpah. Sang isteri pun demikian. Mereka terbayang saat membunuh harimau itu dengan kejamnya. Padahal harimau itu tidak bersalah apa-apa.

“Rupaya, harimau itu yang menyelamatkan anak kita, Mas.” Lenguh sang isteri dengan terbata-bata. 

Sang suami tidak bisa berbuat apa-apa selain menyesali kesalahan yang telah dilakukannya.



BACA JUGA DONG YA!

Sahabat Terbaik (Rozzaqy Wielda Tsani)
Jipalati Sahabat Sejati (Sittin Rahmatin)
Si Melong dan Si Mancung (Raden Masju)
Antara Cinta dan Benci (Raden Masju)
Ia Sedang Jatuh Cinta ........................


Artikel Terkait

Cerpen 7981962824584377872

Post a Comment

emo-but-icon

item