Jilbab Itu Cantik

Umi Masyuroh

Rambut selehernya yang dipotong cepak teryata mengundang amarah ayah melebihi yang dia duga. Ibu tidak berani bicara ketika suara tinggi ayah menggelenggar memenuhi rumah, bahkan terdengar sampai ke halaman depan. Jangan ditanya siapa yang berani menarik urat leher ayah keluar sekeras itu kalau bukan anak bontotnya yang sekarang entah sudah berubah menjadi setengah perempuan atau laki-laki.

“Apanya yang salah sih, cuma dipotong cepak doang.” gadis itu masih bersungut-sungut, tudung putih segi empatnya ia sampirkan ke pundak, tidak seperti teman-temannya yang lain. Cantik dan rapi ketika berangkat ke Madrasah.

Teman yang lain tidak berani menimpali, hanya sesekali mengangguk dan tersenyum. Malas kalau setiap hari terus menjelaskan akar kemarahan ayahnya pada si gadis yang sekarang sudah repot mencari peniti untuk kerudungnya ketika gerbang sekolah sudah mulai terlihat. Selalu begitu, berangkat dari rumah tidak memakai kerudung sekolah dan nanti ketika sudah di depan sekolah baru ia buru-buru memakainya dengan cepat.

“Pakai dari rumah, pasti gak ribet, Lintang.” Gadis yang dipanggil Lintang itu meringis, membiarkan teman-teman sepantarannya berjalan lebih dulu, karena dia masih sibuk memperbaiki bagian depan yang masih belum bisa rata. Masih sulit sekali, apanya yang mudah seperti kata ayah?

Respon ayah kemarin seharusnya tidak berlebihan begitu, apalagi sampai sekarang Lintang masih dicuekin di rumah, dan ibu sepertinya kompak melakukan mogok bicara padanya. Gadis itu pusing tujuh keliling, bagaimana bisa pikiran orangtuanya masih sekolot itu? Mengatakannya tidak mematuhi aturan dan tidak bisa menjaga diri dengan berpenampilan begini. Persis seperti laki-laki.

Lintang masih mematut diri di depan cermin. Celana oblong selutut, t-shirt lengan pendek, gelang karet ditangan, dan rambut model barunya yang diteriaki ayah tempo hari. Bilang kalau dia seperti anak jalanan yang tidak berpendidikan.

Demi mendengar kalimat ayah itu kuping gadis itu memanas. Apa gara-gara dia tidak memakai penutup kepala seperti teman-teman sekolahnya yang lain? Kalau memang itu masalahnya kenapa ayah tidak langsung bicara jujur saja? Dan bukanya dia juga melakukan aturan itu dengan baik seperti teman-temannya yang lain ? Berjilbab ketika berada di sekolah dan melepasnya kembali ketika sudah berada di rumah. Seharusnya itu tidak masalah bukan, tapi kenapa ayah seolah-olah selalu ingin memarahinya. Tidak seperti kedua kakak sulungnya yang selalu membuat ayah lebih lembut.

“Penutup kepala itu keharusan sayang, sama wajibnya dengan sholat dan puasa.” Itu kata Dessy kemarin. Teman sebangkunya itu malah lebih rajin lagi memakai  kerudung, kemana-mana selalu pakai saja.

Alasan lain yang membuat Lintang tambah bingung juga karena kalimat ayah kemarin petang, “tempat tinggal kita ini di lingkungan sekolah madrasah, semua anak-anak seusia kamu sudah pakai jilbab. Lah kamu sampai SMA begini masih belum sadar juga.” Ayah memanggilnya hanya untuk bicara itu dan langsung pergi lagi mengacuhkannya.

“Emangnya pakai penutup kepala gitu, bisa buat aku lebih baik lagi? Berenti bikin ayah darah tinggi?” Dessy  mengangguk kuat. Kelihatan sangat yakin sekali, sementara Lintang hanya menggerung sendiri merasa aneh mengenakan kain dikepala itu.

Gadis itu menggeleng kuat, “aku gak yakin, Dess. Gimana lebih baik kalau tiap hari harus kepanasan gini.” Dessy melongo, kalimat gadis itu memang tidak bisa diajari dengan mudah.

Sebenarnya Lintang mengetahui itu ketika ia memutuskan untuk menjadi salah satu murid madrasah swasta yang dekat dari rumah. Mematuhi aturan dan sanksi yang ia dapatkan sesuai penjelasan ayah. Harus memakai jilbab di sekolah dan di rumah juga, mungkin di sekolah dia bisa manut, tapi kalau di rumah. Memakai kaos oblong dan celana selutut saja itu masih sopan, ketimbang memakai pakaian seperti you can see dan itu sudah memancing amarah ayah yang seperti ingin memakannya hidup-hidup.

“Lintang, bukan gak mau pakai ayah, tapi nanti aja. Emangnya pas langsung pake aku bakalan langsung jadi anak yang manis gitu seperti kata ayah. Aku bukannya mau nunda hidayah dulu baru mau pake penutup kepala, tapi karena aku harus buat komitmen biar gak niat lagi untuk buka jilbab nanti.” Ayah diam, semakin tidak percaya saja dengan kalimat bungsunya yang pintar bicara soal hidayah untuk berhijab.

“Apa sekarang gara-gara artis banyak berhijab, terus ayah semangat banget nyuruh aku pake jilbab juga?” ayah menarik nafas berat, sepertinya percuma saja menyuruh si bontot merubah penampilan, ada saja penjelasan panjangnya yang membuat ayah langsung bungkam. Apalagi kemarin gara-gara melihat potongan rambut cepak yang keras seperti ijuk itu membuat darah tinginya semakin merosot naik. Percuma saja kalau terus dipaksa begitu.

Ayah menggeleng pelan, mencoba jurus terakhir bicara lebih lembut dari hati,” bukan begitu sayang, perbedaanya kalau kamu pakai baju model begini gak papa kalau kamu ngomongnya keras, cuek, persis kayak laki. Tapi kalau kamu pakai baju hijab, pasti lebih sopan, nada bicaranya dijaga, lebih santun, dan cantik.” Mata ayah berbinar, seperti berhasil menyampaikan pesan dari perintah yang dititahkan pada si Lintang.

Kening gadis itu berlipat seperti berfikir keras, dia mengangguk beberapa kali tanda mengerti. Ayah teresnyum lebar berharap putri terakhirnya ini cepat berubah seperti yang diinginkannya.

“Tapi, yah. Kalau kelakuan anak yang gak pakai jilbab itu lebih baik dari yang makai gimana? Berarti penampilan tidak mempengaruhi perilaku dong. Kan percuma jadinya.”

Gubrak,,, mata ayah kalap. Ganggang sapu ijuk yang berdiri diam di sampingnya di sambar cepat, dan sebelum itu terjadi gadis berambut cepak keras itu sudah lebih dulu mengambil langkah seribu. Menyelamatkan diri dari amukan ayah yang sepertinya ini lebih parah.

Artikel Terkait

Cerpen 676889306086344731

Post a Comment

emo-but-icon

item