Melancong ke Kota Santri

Umi Masyuroh

Kesibukan sebentar lagi akan terlihat, jalan raya kecil itu akan membludak. Ini bukan hari apa-apa, hanya hari biasa yang setiap pagi akan terlihat mencenangkan dan tunggu waktunya, sudah dimulai. Sebentar lagi, kalau tidak sabar hitung jarimu saja dari sepuluh.

“Bener kan? Ini baru awalnya, kalau kamu ingin masuk lagi di setiap gang besar itu, pasti akan keliatan lagi.” Si Rindang masih tersenyum  lebar, menatap puluhan bahkan ratusan anak yang tumpah di jalanan berebut memberikan rupiah pada sopir angkot dan berpencar kesegala arah, tapi yang paling banyak mereka memasuki dua gang besar disisi jalan itu.

Aku melihat itu sudah biasa saja, bahkan pernah menjadi pelakunya selama enam tahun. Menyenangkan, karena untuk bisa ke level sekarang ini aku atau siapapun harus melewati level bawah dulu seperti anak-anak tadi yang sekarang sudah lengang memasuki wilayah masing-masing. 


Tubuh si Rindang bergerak, menghidupkan motornya dan menyuruhku untuk segera naik. Sepertinya rasa ingin tahu dari kemarin membuatnya menyeretku ke sini pagi-pagi sekali. 

“Semuanya pakai jilbab? Yang sekolah SD itu juga?” dia pendatang dari Jakarta jadi wajar saja kalau pertanyaannya begitu yang menurut sebagian orang dan diriku hal yang biasa-biasa saja. Tidak perlu untuk diherankan.


Itu pertanyaan pertamanya ketika sengaja kuajak dia melewati rute belakang sekolah Yayasan Hamzanwadi lebih tepatnya madrasah. Sebenarnya ini tentang pertanyaanya ketika mengambil syarat terakhir untuk yudisum. Sekolah Hamzanwadi yang dia tahu cuma tentang kampus dan sekolah yang berada di kompleks kampus, tapi dia belum tahu saja tentang sekolah lain yang menyebar di seluruh Desa Pancor.


“Yang ini sekolah khusus cowok tapi tingkat MTSnya-disini gak ada SMP, karena ini sekolah swasta-untuk sekolah MA cowoknya di sebelah gang besar yang tadi. Itu sekolah khusus untuk MA atau SMA.” 


Tangan dan mulutku sibuk menjelaskan dan menunjuk bangunan-bangunan yang tadi sibuk ia tanyakan. Aku sudah seperti pemandu guaide saja dengan turis lokal yang sekarang sibuk jepret-jepret. Sesekali beberapa orang yang berlalu-lalang menatap kami tidak mengerti. Kelayapan di jalan gang yang sekarang sudah sepi. Hanya ada satu dua orang anak yang tergopoh memasuki gerbang sekolah mereka, dan sudah ada teman sepantarannya yang menunggu dengan buku panjang yang biasa kami gunakan membuat buku RPP. Matanya tajam kearah anak yang baru datang, dia terlambat dan si Rindang tambah lebih asyik menarik tanganku kesana menghadap kerumunan kecil di depan gerbang yang semuanya cewek.


“Kalo yang itu sekolah khusus cewek aja?” aku mengangguk. Otaknya sama koneknya dengan tangannya yang sudah menyeretku ke sana. 


Beberapa tudung jilbab putih itu serentak menatap kami bingung. Aku tersenyum ramah dan merapat pada seorang guru berkopiah hitam yang kebetulan berdiri di samping gerbang. 


“Assalamualaikum, ustadz, apa kabar?” aku tidak segera meraih tangannya, karena selepas ini ustadz itu biasanya melakukan sholat dhuha. Tubuh berisinya meringsut menatapku dengan kening berlipat. 


“Itu kamu? Ngapaiin kesini?” dia guru yang terkenal humoris, apapun yang ia ucapkan selalu terlihat lucu. Aku tertawa kecil mengikuti bibirnya yang sudah sumringah, sementara Rindang kubiarkan sibuk mengintrogasi kerumunan itu. 


“Ini temenku, mau liat-liat sekolah Hamzanwadi. Dia dari luar lombok, tertarik sama sekolah sini.” Kepalanya mengangguk dan menatap kami giliran. Si Rindang mendekat, rupanya dia sudah selesai. Kepalanya menunduk memberikan hormat pada guruku yang juga sudah siap-siap untuk masuk juga. 


Tangan kecilnya terjulur ke depan ingin bersalaman pada si Ustadz, tapi tangankku lebih cepat menarik tangannya untuk kembali. Hanya seulas senyum tipis kami pasang dan segera beranjak pergi. Wajah berlipat si Rindang masih kubiarkan sampai ke tempat sekolah berikutnya. 


“Ini madrasah aliyah berasrama, sekolah ini cowok-ceweknya gabung jadi satu, ini asrama cowok di luar, kalo ceweknya di dalam jadi satu sama sekolahnya.” Si Rindang masih manggut-manggut, antara dia dengar atau sibuk sendiri dengan beberapa anak yang berlarian kecil memasuki gerbang sekolah. Sekolah ini memang yang paling telat masuknya, karena subuh tadi mereka harus mengaji kitab kuning dulu. 


“Seragamnya pake gamis gitu? Biarpun cowok?” pertanyaannya dijawab sendiri olehnya. Sampai sekolah di paling ujung dalam gang itu. Sekolah khusus cowok dan cewek. 


Blusukan kami hari ini selesai. Mata si Rindang masih jeli menatap layar ponselnya, sesekali menatap kertas putih yang sudah penuh dengan coretan cakar ayamnya. Segelas es kelapa muda penghilang dahaga siang ini membuatku menarik nafas lega. Hari ini agenda untuk travel ke madrasah Hamzanwadi menjadi pilihan Rindang setelah tugas kampus selesai. 


“Yang unik dari sekolah Hamzanwadi ini selain itu apa, La?” 


Aku terdiam, ini kesempatan baik memperkenalkan Desa Pancor sebagai kota santri pada pendatang baru seperti Rindang yang baru enam bulan disini. 


“Banyak sich, pagi-pagi sekali sebelum belajar harus sholat dhuha dulu, sebelum belajar juga harus baca shalawat nahdatain model di kampus, setiap pulang harus sholat zuhur berjamaah. Itu tiap hari. Liburnya disini hari jum’at, tapi siangnya harus kesekolah lagi baca hizib semacam doa-doa dan shalawat yang diambil dari al-qur’an dan hadist yang ditunjukkan untuk pendiri Madrasah Hamzanwadi.” Aku menarik nafas sebentar, menyeruput minuman yan sudah tinggal sedikit. Wajah Rindang masih sangat penasaran.


“Setiap rumah di dekat sini pasti ada kost-kostannya, setiap sore kalo kamu keluar dari rumah. Banyak warung dadakan di sepanjan jalan. Kuliner malam menjadi pilihan enak buat makan setelah pagi hari sibuk belajar, tapi bukan berarti kalo malam juga waktunya untuk jalan-jalan cari makanan ato main-main dijalanan ya, no way. Kalo kamu jalan ke mushola al-abror di dalam gang untuk sekolah MTSnya, kamu bakalan nemuiin santriwati yang belajar disitu. Bukan cuma satu sekolah saja, tapi hampir sebagian siswa Hamzanwadi kumpul disana untuk belajar ilmu diluar sekolah. Ada yang belajar ilmu nahwu sharaf, kitab kuning, tajwid kebanyakan ilmu agama sich.” 


Sampai disini wajah Rindang semakin melebar saking semangatnya. Aku menarik nafas ngos-ngosan, melirik air minumku yang sudah kandas. 


Ujung bajuku ditarik dengan semangat, persisi seperti anak kecil yang merajuk meminta melanjutkan dongeng seorang putri dan pangeran yang akhirnya hidup bahagia selamanya. 


Artikel Terkait

Cerpen 8498668949016672356

Post a Comment

emo-but-icon

item