“Meski Tak Seindah Kemarin”

By: Jalaluddin
(Siswa MTs NW Boro'Tumbuh)

“Saat bagun tidur aku langsung membuka jendela. Udara sejuk masuk ke dalam kamarku. Aku melihat bunga-bunga bermekaran di luar sana. Aku melihat  mentari yang mulai merayapi dinding langit di ufuk timur.  Warna Kuning keemasan mulai menyilaukan mataku.

Aku pun pergi ke sekolah bersama teman-teman. Kami melewati jalan setapak yang masih dibasahi embun pagi. Rumput-rumput terlihat hijau dan segar. Para petani yang sedang mencangkul juga tak luput dari pandangan.
Anak Rimba yang Malang | by: Candra Wijaya
Aku tiba di sekolah. Aku pun masuk ke dalam kelas. Lalu aku mulai membersihkan kelasku yang kotor dan berdebu itu. Sampah-sampah pun berserakan. Kali ini adalah jadwal piketku.

Waktu belajar pun tiba. Aku  masuk ke dalam kelas untuk mengkuti pelajaran pertama. Aku mengikuit pelajaran dengan serius dan santai.

Setelah dua mata pelajaran kutelan, akhirnya waktu keluar main tiba. Berbelanja ke warung Bu Lia adalah favoritku. Saat bel berbunyi aku mulai masuk kembali.

Pada jam terakhir aku sedikit payah dalam menerima pelajaran. Pasalnya hari sangat panas. Ruang kelas yang pengap dengan pentilasi seadanya membuatku tidak betah di dalam. Namun aku harus selalu bersabar utuk mengkuit pelajaran. Aku harus mengikuti pelajaran sampai pelarajaran berakhir.

Hingga akhinya waktu pulang tiba. Di tengah perjalanan kami melihat cewek cantik yang lewat. Kupandangi gadis cantik itu dengan perasaan kagum. Lama aku perhatikan gadis itu. Setelah melihat lebih dekat, eh ternyata dia banci. “Sialan...,” ungkapku. Kami pun berlari sambil perut terasa di gelitik....wkwkwkwkwkw.....

Itulah kisahku hari ini. Meski tak seindah kemarin namun membuatku sedikit bisa tertawa. Kamu?


Sahabat Terbaik (Rozzaqy Wielda Tsani)
Jipalati Sahabat Sejati (Sittin Rahmatin)
Si Melong dan Si Mancung (Raden Masju)
Antara Cinta dan Benci (Raden Masju)
Ia Sedang Jatuh Cinta ........................

Artikel Terkait

Cerpen 1631978154669862848

Post a Comment

emo-but-icon

item