Rahasia Sukses Orang Jepang Yang Perlu Diketahui

Salah satu rahasia sukses terbesar bangsa Jepang adalah kaizen dan hansei. Kaizen adalah penyempurnaan tiada henti, sedangkan hansei perbaikan tiada henti. Kedua kunci penting ini merupakan pilosofi hidup bangsa jepang yang telah mengakar dan menjadi sokoguru bangkitnya perekonomian Jepang.

Baca Juga: Tujuh Kunci Agar Menjadi Pribadi yang Positif

Karakteristik
Ada pun karektristik khas Jepang yang mendorong bangsa ini maju antara lain :
  • orang Jepang menghargai jasa orang lain,
  • orang jepang menghargai hasil kerja orang lain,
  • setiap orang harus berusaha,
  • orang Jepang memiliki semangat yang tidak pernah luntur, tahan banting, dan tidak mau menyerah.
  • Jepang adalah bangsa yang menghargai tradisi dan memegang teguh kebudayaan yang telah diwariskan oleh pendahulunya,
  • Kehausan yang tidak pernah puas akan pengetahuan.

Etika Kerja
Etika orang Jepang adalah etika demi komunitas. Etika orang Jepang itu tujuan utamanya adalah membentuk hubungan baik di dalam komunitas. Kebesaran komunitas bergantung pada situasi dan zaman. Negara, desa, keluarga, perusahaan, pabrik, sekolah, partai, kelompok agama, tim sepak bola – dan lain-lain – dalam bentuk apa pun – orang jepang mementingkan komunitasnya, termasuk diri sendiri.

Etos Kerja
Ciri etos kerja dan budaya Jepang adalah bekerja untuk kesenangan bukan untuk gaji, mendewakan langganan, dan menganggap bisnis adalah perang.
Bangsa Jepang memiliki etos kerja dan budaya yang unik, memurut mereka :
  1. Bekerja adalah kesenagan, bukan sekadar untuk mendapat gaji. Tentu saja orang Jepang juga tidak bekerja tanpa gaji atau dengan gaji rendah. Tetapi kala gajinya lumayan, orang Jepang bekerja untuk kesenangan. Bagi orang Jepang, ketiga itu seperti bermain bersama kawan dekat. Biasanya, pekerjaan dilakukan oleh satu tim. Jika seseorang ingin berhasil dalam permainan dan menaikkan kemampuan diri sendiri, maka dia dan kawan-kawannya harus saling mempercayai. Karena permainan terlalu menarik, dia kadang –kadang lupa pulang ke rumah.
  2. Harus mendewakan langganan. Okiyaku sama ha kamisama desu ‘langganan adalah Tuhan’, peribahasa ini dikenal oleh semua orang Jepang. Perahaan berusaha untuk mewujudkan permintaan dari langganan sedapat mungkin dan berusaha mengembangkan hubungan erat dan panjang dengan langganan.
  3. Bisnis adalah perang. Orang Jepang yang di dunia bisnis menaganggap bisnis sebagai perang yang melawan dengan perusahaan lain. Budaya bisnis Jepang lebih mementingkan keuntungan jangka panjang. Supaya menang perang, maka mereka harus melakukan persiapan lenkap untuk bertempur setenaga kuat. Semua orang Jepang tahu pribahasa “Hora ga lette ha ikusa ha dekinu” (kalau lapar tidak bisa bertempur). 

Budaya Kerja
Orang-orang Jepang memiliki budaya kerja yang tinggi. Mereka menghargai pekerjaan serta menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan mereka. Itulah sebabnya mereka sangat bertanggung jawab terhadap pekerjaan. Mereka juga sangat menghargai waktu, bergerak gesit, dan berjalan dengan cepat.

Orang Jepang mampu bekerja lembur tanpa harus mendapat tambahan gaji. Mereka juga terbiasa pulang kerja pada larut malam. Semua itu mereka lakukan karena kecintaan mereka terhadap pekerjaan, juga loyalitas pada perusahaan tempat mereka bekerja. Jika ada seorang pekerja yang pulang kerja lebih awal, maka dia akan dicecar pertanyaan oleh isterinya, juga menjadi omongan para tetangga. Mereka yang pulang kerja lebih awal biasanya dikatakan sebagai pekerja yang sedang mendapat masalah, misalnya terancam dipecat dari perusahaan.

Para isteri di Jepang memang lebih bangga bila suami mereka pulang kerja pada larut malam. Bagi mereka, kerja lembur yang dilakukan oleh suami justru membuktikan suami mereka benar-benar mencintai pekerjaannya.

Sehingga pulang cepat adalah suatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

Jam Kerja Orang Jepang
Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2.450 jam pertahun, sangat tinggi dibanding AS (1.957 jam pertahun), Inggris (1.911 pertahaun), Jerman (1.870 jam pertahun), dan Prancis (1.680 jam pertahaun).

Fenomena ‘karoshi’, mati karena kerja keras mungkin hanya ada di Jepang.

Kecekatan, keahlian, dan kecepatan para pekerja di Jepang jelas melebihi pekerja di negara mana pun. Seorang pekerja Jepang rata-rata dapat melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan lima sampai enam orang di negara lain. Misalnya di Indonesia, untuk memperbaiki jalan kampung yang rusak mungkin diperlukan 15 orang, di Jepang pekerjaan itu dapat dilakukan oleh tiga orang saja.
Jepang bisa menjadi pemimpin ekonomi Asia, dan salah satu yang termaju di dunia. Hal tersebut bisa mereka capai karena adanya sikap kerja keras, rasa malu untuk melanggar norma, hemat, loyalitas, inovasi, pantang menyerah, kerja sama kelompok, mandiri, menjaga tradisi, disiplin, fokus dan kuatnya budaya baca.

Tingginya Minat Baca :
Faktor terpenting yang membuat bangsa Jepang bisa melesat lebih cepat adalah tingginya minat baca. Produksi buku di Jepang adalah 60.000 – 70.000 judul buku per tahun. Jumlah toko buku juga sama dengan jumlah toko buku di AS, padahal AS adalah negara yang luasnya 26 kali lebih luas dan berpenduduk dua kali lebih banyak dari pada Jepang. 

Jika supermarket dan toko-toko lain di Jepang biasanya tutup pukul 20.00, maka toko buku biasanya tetap buka hingga larut malam. Banyak pengunjung yang sekedar tachi-yomi atau berkunjung dan memabaca buku di sana, belum tentu membeli.

Itulah tadi kunci sukses orang-orang Jepang. Kesuksesan mereka bisa kita saksikan dan rasakan hasilnya sampai saat ini. Siapa yang tak kenal dengan merek Honda, Panasonic, Sony, Toyota, Mitsubitshi, Suzuki, Daihatsu, Yamaha, dan masih banyka lagi, adalah karya bangsa Jepang yang mendunia. Padahal sebelum itu kita tau bahwa negara Jepang adalah negara yang terpuruk oleh perang, dan juga tidak memiliki potensi SDA yang begitu melimpah.

Semoga bangsa kita bisa mengambil bagian-bagian penting dari sikap dan etos kerja bangsa negeri Sakura tersebut. Karena bangsa kita masih perlu banyak belajar dari bangsa-bangsa yang lebih maju.

Artikel Terkait

Tips 3360677054372014249

Post a Comment

emo-but-icon

item