Arti Persahabatan

Karya: Siti Rahmi Jalilah
(Siswi MTs NW Boro'Tumbuh

“Biasa aja kali Fit, lagian aku bisa memakai jilbab begini juga karena diajarin ama Novi.” Kata Annisa berusaha merendahkan diri.
 
Kini giliran Novi yang dipelototin ama Fitri dari ujung kaki hingga ujung rambut. Fitri tertawa ngakak melihat Novi memakai jilbab.
“Ya ampyuuun, ini lu Vi?”

“Hihihi….Kagak asyik melihat lu make jilbab kayak gitu. Nggak cocok tau….kasian banget yah. Annisa yang lu ajarin make jilbab kelihatan cakep, tapi kalau lu yang make kok keliatan ancur gini.”

Novi bengong melihat kelakuan Fitri yang ngacau dan tak jelas itu. Ia merasa sakit hati mendengarnya. Wajahnya tampak berubah. Pipinya yang semula kelihatan manis kini menjadi masam

Novi dan Fitri memang sering bertengkar. Mereka suka saling mengejek dan mengolok-olok. Tetapi Annisa selalu berada di tengah. Annisa selalu berusaha melerai pertengkaran mereka.

Fitri sedikit agak keras. Ia sulit mengalah dalam hal berbicara. Lebih-lebih suaranya besar dan lantang. Tetapi lain halnya dengan Annisa yang pendiam dan lugu. Bicaranya selalu sopan terhadap teman-temannya. Penampilannya juga terlihat lebih dewasa dan berwibawa sehingga agak disegani oleh kawan-kawan sebayanya.

Pada suatu hari Fitri dan Novi kembali bertengkar. Annisa kebetulan ada di sana.

“Teman-teman kita kan bersahabat sudah cukup lama. Kenapa kalian bertengkar mulu. Apa kalian sudah lupa dengan janji kita yang dulu bahwa kita akan selalu setia sampai akhir nanti.”

Fitri pun menjawabnya dengan suara lantang:

“Udah lah lu gak perlu ceramah di depan kami. Aku nggak butuh!”

Sejak pertengkaran terakhir itu Fitri, Novi, dan Annisa tidak pernah bertemu bahkan di acara kajian Islam keputrian sekali pun.

“Ku dengar dia sibuk dengan eskul paskibranya, ya maklum deh…” Kata Fitri kepada temam-temannya.

Setelah beberapa lama mereka tidak bertemu akhirnya mereka pun bertemu juga. Namun kini Novi berubah penampilan. Jilbabnya semakin imut aja. Yang semula menjulur panjang ke depan kini sebagiannya sudah dipakai menutup leher. Wajahnya semakin cantik dan mengkilat. Plek-plek hitam yang dulu sedikit menodai wajahnya sudah tidak ada lagi sehingga kelihatan mulus dan segar. Fitri kelihatan kecewa melihat penampilan Novi yang sekarang.

Pada suatu hari Fitri datang menghampiri Novi dengan raut muka yang tidak sedap. Itu bertanda ia marah besar. Fitri langsung menghujani Novi dengan kata-katanya yang pedas. Konon Fitri mendapatkan kabar dari teman-temannya bahwa Novi telah menjelek-jelekkannya pada orang banyak. Dikatakan bahwa Fitri orangnya jahat. Fitri suka menjelek-jelekkan orang. Fitri selalu berperasangka buruk kepada teman-temannya terutama pada Novi. Tidak terima dengan semua itu Fitri pun langsung berhadapan dengan Novi untuk mencari kejelasan.

“Apa benar kamu ngomong gitu ama temen-temen Nov?” Tanya Fitri tegas.

“Sungguh aku gak pernah Fit itu semua tidak benar.” Sahut Novi meyakinkan Fitri.

Karena Fitri tidak bisa menahan emosi akhirnya terjadilah pertengkaran. Fitri menarik jilbab Novi hingga terlepas, kemudian mencabik-cabik rambutnya. Novi pun balik melawan dengan mendorong Fitri hingga terjatuh ke kali.

“Cukup! Cukup…….!”

Tiba-tiba Annisa datang yang tak tau dari arah mana dan langsung melerai pertengkaran itu. Annisa berusaha membangunkan Fitri yang basah kuyup oleh air kali. Namun setelah terbangun Fitri malah mendorong Annisa, beruntung Novi menyangganya dari arah belakang.

“Kalian sudah keterlaluan!”

“Kalian nggak punya harga diri!”

“Mana etika dan moral kalian!”

“Apa gunanya orangtua menyekolahkan kalian kalau terus begini!”

“Aku nggak nyangka kalian seperti ini.”

Rupanya Annisa sangat kecewa melihat kelakuan mereka hari itu. Annisa pun meanangis.

“Fitri?”

“Novi?”

“Mengapa kalian nggak pernah tau arti sebuah persahabatan. Kumohon, kalian jangan bertengkar lagi.” Kata Annisa terus menasehati mereka sambil tersedu.

“Coba kalian pikirkan kalau nggak ada sahabat. Siapa yang akan menemani kalian dalam suka maupun duka. Di saat susah atau pun senang sahabat sangat berperan. Tapi mengapa kalian malah selalu bertengkar setiap kali bertemu. Apa ini yang namanya sahabat sejati?! Please Novi, Fitri, jangan bertengkar lagi…”

Kemudian Novi tertunduk malu mendengar kata-kata Annisa. Begitu pula Firti. Mereka berdua akhirya ikut menangis. Ada rasa penyesalan di hati mereka.

“Novi, maafin aku ya?” Suara itu tiba-tiba keluar dari bibir Fitri yang basah oleh air mata.

Aku juga minta maaf Fit, mungkin aku juga salah.” Balas Novi juga meminta maaf.

“Tidak Nov, aku yang bersalah.” Sahut Fitri berusaha megakui kesalahannya.

Annisa mulai tersenyum. Matanya berkaca-kaca menatap kedua sahabatnya itu. Ia merasa lega dan bahagia karena sahabatnya kembali bersatu seperti yang dulu. Akhirnya mereka pun berpelukan dalam tangis dan kebahagiaan itu.



Gerung Permai, Oktober 2011.

Artikel Terkait

Cerpen 7922681252463088264

Post a Comment

emo-but-icon

item