Benci Jadi Cinta

Karya: Fuji Ardani Putri
(Siswi MTs NW Boro'Tumbuh)

Dulu ketika aku duduk di a kelas VII aku paling tidak suka dengan pelajaran bahasa Indonesia. Entah mengapa gairah belajarku hilang seketika apabila guru bahasa Indonesia mulai masuk ke kelasku. Apalagi bila dikasi tugas mengarang aku sangat bosan dan jengkel.
 
Pernah pada suatu hari aku mendapat nasihat dari temanku Dina. Dia mengatakan;“Hai Wik, kamu jangan benci dengan pelajaran apapun, karena kalau kamu benci lihat saja nanti kamu pasti bakalan suka”.

Kata-kata Dina itu masih terdengar jelas di telingaku namun aku tidak percaya begitu saja. Bagiku perasaan tidak suka tetap aja tidak suka, tidak bisa berubah menjadi yang lain.

Temenku yang lain juga berpendapat seperti itu. Katanya dia pernah benci sama teman laki-laki tetapi sekarang malah jadi CINTA. Oh, my God. Cinta lagi cinta lagi. Aku masih belum percaya.

Waktu terus berlalu. Hari demi hari terus terlewati hingga menjadi bulan dan tahun. Akhirnya kini aku duduk di bangku kelas IX. Aku baru menyadari apa yang dulunya aku benci yaitu pelajaran bahasa Indonesia. Sungguh di luar dugaanku bahwa ternyata pelajaran yang paling aku suka sekarang adalah bahasa Indonesia. Apa yang dikatakan oleh teman-teman dulu itu memang benar dan berbukti. Malahan sekarang aku ingin mendalami pelajaran bahasa indonesia terutama dalam hal mengarang atau tulis-menulis. Bukankah dulu aku paling benci dengan tugas-tugas mengarang. So, dunia terbalik.

Setiap aku selesai mengerjakan pekerjaan di rumah aku tidak pernah lupa menyempatkan diri untuk menulis. Baik itu puisi, cerpen, atau pun pengalaman-pengalaman hidupku sehari-hari. Kata Pak Guru ide menulis itu cukup banyak. Tinggal bagaimana upaya kita untuk merespon ide-ide yang berkembang dalam pikiran kita kemudian kita ubah ke dalam bentuk tulisan. Entah itu keluh kesah, ratapan , tragedi, semuanya bisa dituangkan ke dalam tulisasn.

Namun entah mengapa meskipun aku sering berlatih menulis di rumah aku tidak pernah mendapatkan nilai yang bagus ketika ada tugas mengarang di sekolah. Kadang aku merasa kecewa dan putus asa dengan semua itu. Namun dari hati kecilku aku yakin itu semua tantangan buatku. Aku tak boleh mundur dan putus harapan. Aku harus terus belajar dari semua kesalahanku.

Rupanya nilai yang kurang bagus itu tidak cukup menjadi tantangan buatku. Selain itu aku sering diejek oleh teman-temanku. Seperti Dina misalnya, dia mengatakan begini:

“Wik, sudahlah. Kamu jangan terlalu terobsesi menjadi seorang pengarang. Karena dari sekarang kita sudah tau kalau kamu itu tidak pantas jadi pengarang. Lihat saja. Kamu itu kan bodoh. Tidak pernah mendapat nilai bagus setiap ada tugas mengarang. Apa iya, kamu bisa jadi pengarang?”

Aku sangat kesal mendengar kata-kata Dina itu. Aku hampir saja marah. Namun aku selalu berusaha bersikap tenang dan mencoba untuk tersenyum.

“Tidak ada salahnya kan Wiwik bercita-cita atau pun berangan-angan. Itu kan haknya. Mau dia jadi pilot kah, astronot kah, jadi dokter kah, ya artis kah, ya model kah, itu kan terserah dia. Kok kamu yang marah Dina?”

Rupanya Mitha duluan angkat bicara. Sepertinya dia juga geram melihat Dina yang selalu mengejek aku.

“Siapa yang marah. Aku Cuma jijik melihat tingkah kalian berdua”. Jawab Dina ketus. “Terutama kamu Wik, kamu jangan sok pintar di depan aku”.

Begitulah sikap Dina terhadapku setiap kali bertemu. Aku selalu menjadi bahan cercaannya. Padahal selama ini aku tidak pernah sedikit pun bertingkah yang macam-macam di hadapannya. Entah apa yang membuat Dina begitu benci kepadaku. Padahal dulunya dia begitu baik. Bahkan dialah yang selalu menasehati aku agar aku tidak membenci sebuah pelajaran. Faktanya, sekarang aku sangat mencintai pelajaran yang dulunya aku benci. Semua itu tidak terlepas dari nasihat Dina. Tetapi sekarang mengapa dia begitu jauh berbeda. Ketika aku menyukai pelajaran yang aku benci aku bukannya diberi motivasi namun justru caki maki.

“Eh, Dina!

“Kamu kira dirimu cantik?”

“Coba kamu ngaca sedikit”.

“Kamu itu sombong dan tidak punya hati”. Ungkap Mitha dengan sorot matanya yang tajam.

“Sudahlah Mit. Biarkan saja dia mengejek aku. Aku tidak kenapa-napa kok”. Ucapku dengan nada rendah.

“Tapi Wik…?”

“Udah, nggak apa Mit”.

“Baiklah…..” Jawab Mita yang sepertinya tidak puas.

Dina hanya diam saja. Dia tidak begitu berani kalau Mitha sudah mulai naik tensi. Maklum Mitha orang galak dan tegas. Namun dia sangat baik, asyik, dan sering membantu aku dalam kesulitan. Aku sangat kagum dengan sahabatku yang satu ini.

Ada pun Dina akhir-akhir sangat berubah. Sikap arogannya selalu menonjol. Memang sih, ketika ada tugas mengarang dia yang selalu lebih unggul. Tulisannya bagus dan rapi. Cerita yang dibuatnya pun selalu diacungkan jempol oleh bapak guru. Dengan begitu kami pun ikut bangga dengan prestasi menulisnya itu. Hanya dialah wakil dari kelas kami yang pandai mengarang.

Aku sendiri tidak pernah bercita-cita menjadi seorang penulis atau pengarang kah namanya. Tetapi aku hanya mencoba menyalurkankesenanganku saja. Bagiku menulis adalah suatu kebutuhan. Karena dengan menulis dapat menyelesaikan unek-unek dalam batinku. Dengan menulis aku bisa lega dan terasa lepas dari jeratan beban-beban pikiran entah itu kebencian, kesedihan, kekaguman, keraguan, atau kah keinginan-keinginan yang belum bisa terwujud. Itu lah seabrek alasan yang membuat aku begitu senang menulis. Tetapi kalau dihubungkan dengan cita-cita….waduh, rasanya terlalu berat bagiku menjadi seorang pengarang. Jika pun ada cita-cita itu mungkin tidak terlalu besar. Maka apa pu kata teman-teman aku lebih memilih diam saja. Yang penting aku jalani tugasku menjadi seorang siswa yang terus belajar, menimba ilmu, dan berbuat baik kepada teman-teman. Dan satu lagi yang kayaknya paling penting ni, yakni berbakti kepada guru dan oragtua. Ehm.

Di suatu pagi yang cerah sekali aku dan teman-temanku Mitha, Lisa, dan Mona berkumpul di halaman depan sekolah. Di antara kami yang berempat itu Lisa lah yang paling keliatan centil. Tubuhnya mungil dan langsing. Dan kalau soal berbicara dialah yang palin cerewet.

“Teman-teman, ada berita terbaru lo”. Seperti biasa Lisa memulai pembicaraan.

“Berita apa tu”. Sahut Mitha penasaran.

“Siapa lagi kalau bukan teman kita yang jago mengarang itu”. Jawab Lisa bernada menyindir.

Dengan disebutnya ‘jago mengarang’ kami pun sudah tau siapa yang dimaksud oleh Lisa itu.

“Ada apa dengan Dina Lis?” Mitha tampak semakin penasaran, begitu juga teman-teman yang lain termasuk aku.

“Tau gak sih, Dina itu bukannya jago mengarang seperti yang sama-sama kita ketahui sebelumnya. Tetapi yang sebenarnya Dina itu adalah jago nyontek. Plagiator. Semua karangannya itu tidak ada yang asli melainkan diambil dari cerpen-cerpen yang sudah ada di buku-buku. Dan pak guru sudah lebih dulu tau tentang semua itu. Aku sendiri kok yang jadi saksinya. Aku kan teman akrabnya Dina Astuti Andriani. Ya, pasti tau lah sedikit-sedikit tentang dia. Titik”. Jelas Lisa dengan suara yang keras dan nyerocos.

“Ha, apa?” Mitha terbelalak.

Hampir semua teman-teman yang mendengar suara Lisa tadi terperanjat. Ada yang hampir tidak percaya. Termasuk aku. Namun aku memilih diam tanpa komentar.

Suasana menjadi sepi sejenak. Hanya senyuman-senyuman tipis yang terlontar dari setiap sorot mata yang memandang. Mengapa jadi sepi, pikirku dalam hati. Tetapi tidak lama kemudian Mitha terdengar menyapa.

“DINA, gabung yuk!”

Artikel Terkait

Cerpen 6343373511551524030

Post a Comment

emo-but-icon

item