Bintik-Bintik Merah

Karya: Riyadlatul Hikmah
(Siswi MTs NW Boro'Tumbuh)

Plak!

Plak!

Suara pukulan yang mendarat di pipiku. Ketika itu aku sangat kesal sekali sampai-sampai aku menampar diriku sendiri. Tetapi itu bukan tamparan biasa. Aku menampar diriku karena aku ingin membunuh seekor nyamuk yang hinggap di pipiku.

Malam itu banyak sekali nyamuk yang memenuhi kamar tidurku. Ia telah mengganggu tidurku semalaman. Padahal sudah kusemprotkan racun serangga di setiap sudut kamar. Selain itu juga aku pun melumuri tangan dan kakiku dengan Autan. Tetapi tetap saja Ia dapat mengecup pipiku di saat aku sedikit terlelap. Ia berputar-putar mengitari telingaku dengan suaranya yang nyaring dan berisik, sehingga aku selalu terbangun olehnya. Padahal besok harinya adalah jadwal piketku di sekolah. Jadi besok aku harus bangun pagi-pagi sekali. Tetapi, bagaimana aku bisa bangun pagi-pagi kalau aku terus diganggu dan tidak bisa tidur oleh serangga malam yang menjengkelkan itu.

“Astagafirullahaladzim, sudah siang!”
Aku tidak boleh terlambat”
“Kalau aku terlambat, aku pasti dihukum oleh Pak Guru.” Gumamku sambil buru-buru bangkit dari tempat tidur kemudian langsung ke kamar mandi.

Ketika aku di kamar mandi aku melihat wajahku di depan cermin.

“Aaaa….”
“Apa ini?”
“Mengapa wajahku penuh dengan bintik-bintik merah.” Ucapku sambil memegang wajahku.”

Karena terburu-buru aku tidak terlalu memperdulikan semua itu. Setelah mandi, lekas kupakai seragam biru putihku. Untunglah aku sudah mempersiapkan buku pelajaran untuk hari itu sejak tadi malam setelah belajar sebentar.

“Sarapan,”
“Ah, nggak usah.” Bisikku dalam hati.

Ketika tiba di sekolah, seperti biasa Indah sahabatku selalu menyapaku dengan ciri khasnya yang bergaya seperti laki-laki alias tomboy.

“Hallo Dina.” Sambil ia tertegun memperhatikanku sejenak.
“Wajah kamu kenapa Din?”
“Kok banyak bintik-bintik merahnya!” Katanya tampak heran.

“Nggak apa-apa kok,”
“Semalam rumahku banyak nyamuk, terus digigit deh, makanya jadi berbekas kayak gini.” Kataku berusaha meyakinkan.

Tidak lama kemudian tiba-tiba Desi juga datang menghampiriku.
“Hai Dina…”
“Kasihan sekali sih kamu digigtt nyamuk sampai berbekas seperti itu.”
“Salah kamu juga sih, nyamuk kok dipelihara.”
“Makanya nggak heran kalau nyamuk suka sama kamu, soalnya kamu orangnya udik. Bau lagi.”
“Kayak aku dong, wangi dikit.”

Kata-kata Desi itu hampir saja membuatku marah. Namun aku tidak mau membuat keributan di sekolah. Jadi aku mencoba untuk menahan emosi saja dan tidak memasukkan kata-katanya ke dalam hati. Meski pun itu menyakitkan. Aku diam saja sambil buru-buru masuk kelas. Namun tak lama kemudian tiba-tiba kudengar keributan di luar sana.

“Eh, Desi apa yang kamu lakukan terhadap Dina.”
“Kamu jangan mentang-mentang gitu dong.”
“Aku benci sama kamu!”
“Seharusnya kamu itu ngaca sedikit.”
“Jangan bisanya Cuma menyombonkan diri saja!” Kata Indah yang seperti mengutuk kelakuan Desi. Lalu Desi pun menyahut.

“Kamu pikir aku takut ya dengan kamu.”
“ Siapa sih kamu.”
“ Meski pun kamu ketua osis di sini aku nggak pernah takut kali.”

Melihat mereka yang saling bersitegang itu, aku mendekat. Karena kulihat Indah sudah mulai naik pitam. Kalau sudah seperti itu aku takut terjadi keributan yang memanjang.

“Sudah lah Indah. Sudahi saja. Tidak ada gunanya juga kita bertengkar. Dan aku tidak apa-apa kok.” Kataku menenangkan Indah. Lalu aku menarik tangan Indah, menganjaknya untuk pergi meninggalkan tempat itu.

Bel panjang pun berbunyi. Kami berhamburan masuk ke dalam kelas masing-masing. Aku duduk bersebelahan dengan Indah. Sedangkan di bangku sebelah kami adalah Desi bersama Abidah. Ketika pelajaran dimulai, tiba-tiba terdengar suara dari arah bangku sebelah kami itu.
Tiuuuuuuut…..

Gelak tawa seisi kelas pun terpecah dan semua mata memandang ke arah Desi. Pak guru terlihat lelah menahan tawanya.

Artikel Terkait

Cerpen 1234021212543572980

Post a Comment

emo-but-icon

item