Entahlah....Mungkin Kamu Juga Suka.....

Matahari mulai menampakkan sinarnya. Jalan-jalan mulai terlihat ramai. Kendaraan berseliweran dari arah utara dan selatan. Anak-anak sekolah berbondong-bondong pergi ke tempat belajar. Sementara saya......hanya bengong saja. Cuma menatap lalu lalang orang-orang yang pergi ke tempat kerja atau pun pergi buang air besar. Lalu duduk di tepi jalan. Hanya duduk saja sejak matahari belum lahir. Karena sejak selesai salat subuh saya sudah ke luar rumah untuk menghirup udara segar.

Inilah jadinya, saya biasa dengan rencana tanpa tujuan yang jelas. Seperti halnya orang yang pergi ke hutan mau cara sesuatu, tidak jelah entah apa. Seperti orang mau ke pasar mau pergi beli apa. Seperti orang yang jalan ke utara mau cari anu. Ah, begitulah. Entah apa yang saya pikirkan, dan saya sendiri tidak tau. La, saya ini kan orang peng-ANGGUR-an. Bukan peng-APEL-an, apalagi pen-JAMBUA-an. Saya tidak punya pekerjaan lain kecuali duduk lalu pergi ke tempat pling aman yaitu ke WC.

Saya ingin bercerita sedikit tentang sesuatu. Tapi, maukah kamu meneruskan membaca?
Anak Rimba yang Malang
Begini, pernah suatu hari saya berjalan menyusuri pematang sawah. Seperti biasa, dengan tujujan ynag tidak jelas. Lantas ketemu sama bapak ibu petani yang kebetuan berselisih jalan. Masing-masing mereka ada menyapa.

“Mau ke mana?”

“Mau ke sana.” Jawab saya singkat.

Ia pun melihat tangan saya yang menunjuk ke satu arah. Lalu ia pergi begitu saja. Sementara saya masih dalam keadaan menunjuk.  setelah saya perhatikan tangan saya ternyata saya menunjuk ke arah atas.

Saya pun terus melanjutkan perjalanan. Kemudian terdampar saja di pinggir kebun. Di situ ada sungai yang jernih airnya. Tanpa berpikir lama saya turuni anak sungai itu. Saya cemplungkan kaki saya ke dalam. Ternyata airnya dingin. Saya mulai merasakan kesejukan hingga ke sekujur tubuh. Lantas mencoba menyentuh air sungai itu dengan tangan. Lalu pandangan mulai tertuju pada batu-batu yang ada di dalamnya. Berbagai jenis batu terdapat di sana. Terutama batu hitam yang paling mendominasi. Ikan-ikan pun berenang. Sayapnya terlihat mengipas-ngipas. Bahkan ikan-ikan itu menciumi kaki saya. Hebat. Ikan-ikan pun memberikan kenyamanan tersendiri.

Lalu saya jongkok dan mengeluarkan sisa-sisa proses pencernaan dalam perut.

Bagaimana, ceritanya bagus kan? wkwkwkwkwkwk.........

Sahabat Terbaik (Rozzaqy Wielda Tsani)
Jipalati Sahabat Sejati (Sittin Rahmatin)
Si Melong dan Si Mancung (Raden Masju)
Antara Cinta dan Benci (Raden Masju)
Ia Sedang Jatuh Cinta ........................

Artikel Terkait

Cerpen 676870765013735199

Post a Comment

emo-but-icon

item