Jimiri_trifi

Karya : Jinan A. Anjana
(Siswi MTs NW Boro'Tumbuh)

“Bagaiman kalau kita namakan persahabatan kita ini dengan ‘Jimirifi’. Tanya Fitri

“Boleh juga.” Kataku menyetujui

“Yup, kalau begitu mulai sekarang nama persahabatan kita adalah Jimirifi.” Sahut Misri semangat.

Begitulah akhir-akhir ini kami sibuk menjari nama yang pas untuk persahabatan kami. Dan akhirnya nama tersebut sudah ketemu. Jimirifi adalah singkatan dari Jinan, Misri, Riyad, dan Fitri. Persahabatan kami itu sudah ada sejak satu tahun yang lalu yaitu saat kami masih kelas VIII MTs.

Persahabatan kami masih terjalin erat hingga sekarang. Kami sudah melewati banyak hal bersama, mulai dari belajar kelompok, main bersama, sedih dan bahagia bersama. Pokoknya semua aktifitas kami hampir selalu kami lakukan bersama-sama. Dan sekarang kami sudah kelas IX MTs. Sayangnya kami berbeda kelas dengan Fitri. Hanya dia yang berada di kelas XI B sedangkan aku dan yang lainnya berada di kelas IX A.

Akhir-akhir ini kami jarang bermain bersama di sekolah, baik Misri maupun Riyad. Saling menyapa pun sudah jarang. Aku lebih banyak menghabiskan waktu keluar mainku dengan bersenda gurau bersama teman satu bangkuku. Sedangkan mereka bermain bersama Riza dan Rizana anak kelas B.

Pada suatu ketika yaitu tepatnya pada hari senin, tumben sekali aku berkumpul bersama mereka. Aku merasa sedikit asing bersama mereka. Ketika itu kami sedang berbincang-bincang di musalla.

“Aku punya ide ni, bagaimana kalau Jimirifi kita ganti saja dengan yang baru.”Kata Fitri membuka pembicaraan.

“Mau diganti dengan apa?” Tanyaku.

“Menjadi Jimiriririfi.”

“Kok banyak sekali ri-nya, maksudnya apa?” Sambung Mis.

“Sehubungan dengan keadaan persahabatan kita yang semakin lesu, siapa tau nanti setelah hadirnya personil baru ini akan sedikit membuat suasana lebih fress.” Kata Fitri mencoba berargumen.

“Personil baru, siapa?” Riyad penasaran.

“Riza dan Rizana.”Sahut Fitri.

“Kalau kita sama-sama setuju , ya tidak jadi masalah. Secara pribadi aku juga setuju kok,” Sahutku meyakinkan.

Mulai saat itu nama komunitas persahabatan kami adalah Jimi-ri3-fi (baca: Jimitrifi), yaitu singkatan dari Jinan, Misri, Riyad, Riza, Rizana, dan Fitri. Aneh juga sih kedengarannya, lebih aneh lagi ketika terjadi penambahan personil. Seperti boyband atau girlband aja, pikirku.

Setelah masuknya Riza dan Rizana menjadi anggota bukannya membawa semangat baru, namun justru kami mulai kalang kabut. Sebab kami semakin jarang bertemu, jarang berkomunikasi, intinya jarang interaksi, baik di sekolah lebih-lebih di rumah. Persahabatan kami terasa kering sekali. Tidak seperti sebelumnya yang meskipun kami jarang main bersama tetapi untuk sekedar bermusyawarah sering kami lakukan. Sebenarnya aku sendiri sangat tidak ingin hal seperti itu bisa terjadi. Aku sangat merindukan persahabatan yang intim, yang seayun selangkah, seiya sekata dalam segenap persoalan. Dan yang terpenting bisa saling menghargai satu sama lainnya.

Rupanya Riza lebih memilih bekerja sama dengan teman sekelasnya yang lain, meski pun kami telah berusaha membujuknya secaraa persuasif. Sedangkan Rizana sendiri lebih memilih bersama kami. Akhirnya yang masih terasa ikatan batin itu hanya kami berlima.

Maka timbullah kembali ide pemangkasan personil. Tepat seperti saat kami berkumpul sebelumnya untuk menambah personil, yaitu di teras musalla, kami memusayawarahkan pemangkasan personil tersebut.

“Kalau kita memberhentikan satu diantara personil, itu bukan berarti kita putus persahabatan bersamanya. Kita akan tetap bersahabat, bertegur sapa, hanya saja dia sudah tidak lagi termasuk ke dalam anggota komunitas kita. Bagaimana menurut kalian?”

“Menurutku tidak seperti itu, kalau memang berhenti ya berhenti sudah.” Kata Fitri menjawabku.

“Bukannya kamu yang mengajak mereka bergabung, kok ambisius sekali sih Fit?” Sahut Misri. “Aku lebih setuju seperti apa yang dikatakan Jinan tadi. Itu lebih bijaksana, dan bila perlu kalau sewaktu-waktu dia mau bergabung kembali, ya kita terima saja.”

“Benar Mis, aku juga setuju.” Sambung Rizana. “Bagaimana dengan kamu Riyad?

“Menurutku, apa yang menurut kalian baik, itu lah yang terbaik. Karena bagaimana pun juga kita sebagai manusia biasa akan tetap saling membutuhkan satu sama lain. Masing-masing kita memiliki kelebihan dan kekurangan sendi-sendiri.” Jawab Riyad.

“Nah, itu yang kuinginkan darimu Yad, sungguh bijak.”

“Ngomong-ngomong sejak kapan ya kamu menjadi…..” Belum selesai Rizana berbicara, tiba-tiba Riza datang membawakan kami makanan.

Artikel Terkait

Cerpen 2828327378759456452

Post a Comment

emo-but-icon

item