Menanamkan Sifat Jujur di Sekolah

Kenyataan yang saya lihat akhir-akhir ini di suatu sekolah adalah keburukan yang terselubung. Pada saat ujian nasional warga sekolah beramai-ramai mencari kunci jawaban. Miris hati saya melihat hal ini. tidak kah bisa dijalankan seperti sistem yang dulu.

Saya ingat saat sekolah dulu, tidak satupun jawaban yang saya contek. Nilai saya adalah nilai murni. Makanya hingga sekarang saya tidak suka mengambil hasil karnya orang. Jika saja sekolah-sekolah terus menerus menerapkan sistem buruk tadi, maka tidak tau apa jadinya bangsa ini sepuluh tahun mendatang.

Ok, sekolah-sekolah mau menyelamatkan anak-anak dari putus sekolah. Tapi dampaknya akan lebih buruk ketika siswa itu tamat nanti. Apakah tidak bisa, bila standar nila itu diturunkan sedikit saja, artinya jangan terlalu naik secara signifigan. Naikkan dia dengan berangsur-angsur, sedikit-sedikit saja.  tunggu perkembangan selanjutnya baru dilanjutkan lagi.

Kita tau bangsa kita memiliki standar yang paling rendah, yaitu 5,5. Sedangkan negara tetangga juga mencapai 7,00 seperti di Singapura. Itu akan kita kejar sedikit-demi sedikit. Toh juga negara-negara maju tidak mungkin membuat standar sampat 10. Tidak mungkin kan? Jadi bisa saja kita kejar nanti. Kecuali mungkin mereka akan terus menaikkan sampai angka 20. Kalau saja standar yang dipatok 10 maka rata-rata anak di suatu bangsa jenius dong.

Saya tidak ingin pendidikan di anah air ini mengacu pada nilai saja. tapi lebih penting adalah produk sikap dan mental warga negara. Percuma memiliki nilai 9 kalau prilaku warga menjadi becat. Lebih baik dapat 3,00 tapi siswanya jujur dalam menjawab soal.


Artikel Terkait

Opini 272048024481744333

Post a Comment

emo-but-icon

item