Pendidikan pada Hakikatnya adalah Proses Pembentukan Budaya

Membangun karakter manusia tidak seperti membangun sebuah jembatan atau pun membangun gedung. Meski sama-sama membutuhkan proses, semisal dimulai dari kerangka dulu, kemudian perhitungan volume setiap balok dsb.

Tapi tidak demikian pada manusia. Pada otak manusia yang satu  tidak sama pada otak manusia yang lainnya. Adanya perbedaan secara fisik maupun nonfisik, sangat memungkinkan membutuhkan berbagai cara ataupun teori yang berbeda. Misalnya untuk mendekati anak A tidak sama untuk mendekati anak B atau anak C. Mungkin saja Si A anak pendiam, dan Si B anak yang Peramah. Jadi semua itu butuh proses sekaligus dengan pendekatan yang berbeda. 

Pada sebagian pendidik terkadang menganggap semua murid sama dan biasa-biasa saja. Buktinya, dalam pengelolaan kelas kerap kali memberlakukan teori atau pendekatan yang sama. Padahal tidak mestinya demikian. 

Proses KBM yang ideal, ada kalanya melalui teknik diskusi, ini tentu akan meningkatkan kemampuan para siswa yang pandai berbicara, dan ada kalanya dengan teknik ceramah, dan ini memungkin penerimaan yang lebih banyak bagi siswa yang pendengar aktif. Dan teknik-teknik lain yang memungkinkan menarik buat siswa itu sendiri.

Kita bisa melihat, siswa yang pendengar aktif biasanya mencatat dengan rinci apa-apa yang disampaikan oleh gurunya ketika menjelaskan. Tapi bagi siswa yang kurang aktif dalam mendengarkan membiarkan begitu saja ceramah gurunya. 

Siswa yang gemar mencatat penjelasan gurunya, pemahamannya akan lebih lekat ketimbang siswa yang tidak mencatat. Ini sebenarnya suatu prilaku yang tidak datang dengan sendirinya pada siswa. Hal semacam ini bisa dibiasakan dari sejak awal. Misalnya, ketika guru baru masuk ke suatu kelas, bisa saja membuat suatu peraturan jika seorang siswa harus mempunyai catatan khusus tentang penjelasan guru bersangkutan. Kemudian konsekuensinya nanti bagi siswa yang tidak memiliki catatan mendengarkan, akan diberikan sanksi apa saja yang bisa membentuk karakter siswa dan tidak merendahkan. Lalu kegiatan semacam ini perlu ditindak lanjuti secara berkesinambungan. Tapi yang jelas, bisa saja berjalan pada setengah semester, lalu setengahnya lagi guru bisa melihat mana siswa yang benar-benar terbiasa dengan kegiatan tersebut.

Tugas-tugas sepele semacam ini sebenarnya merupakan suatu pembiasan integritas siswa. Dari sini kita bisa memperoleh suatu pemahaman yang lebih dari soal integritas siwa. Jika sudah tertanam kebiasaan baik itu maka sulit akan terpisahkan oleh seorang siswa. Karena sejatinya pendidikan itu bukan hanya memberikan ilmu, tetapi juga menanam suatu kebiasaan.



Artikel Terkait

Opini 5797452063672840497

Post a Comment

emo-but-icon

item