Waktu adalah Segalanya, Segalanya adalah Waktu

Apa yang tidak kita lakukan sekarang akan memakan waktu dua kali lipat di masa mendatang. Karena apa yang kita tidak lakukan itu akan mengambil alih waktu-waktu lain dan menghambat pekerjaan kita yang lain.

Terkadang kita tidak sadar kalau kita sedang memotong leher kita sendiri dengan pedang waktu. Kita begitu asyik melakukan pekerjaan yang tidak bermanfaat, bahkan rela mengorbakan waktu yang produktif, seperti di pagi hari misalnya. Sungguh, meruginya bila kita tidak beraktivitas di pagi hari.

Dalam satu hari berapa waktu yang telah kita tinggalkan, tambahkan dengan waktu besok, jumlahkan dalam waktu seminggu, maka sudah berapa hari kita tidak beraktivitas alias menganggur. Jika satu bulan lantas berapa, dalam satu tahun? Mungkin saja 70 % waktu kita dalam satu tahun tidak produktif. Itu artinya kita menahan laju masa depan kita sekitar 70 %, padahal minimal kita bekerja untuk jadi orang sukses adalah menyelesaikan waktu 80 % waktu produktif.

Lalu bagaimana kita bisa mengejar ketinggalan kita? Sementara usia kita semakin bertambah. Kita tidak akan bisa kembali menjadi muda lagi.

Waktu adalah segala-galanya. Betapa pun kita ingin membuatnya hadir kembali, maka itu adalah waktu lain, bukan waktu yang kita tinggalkan.

Mulai sekarang marilah kita menggunkan waktu kita sebaik-baiknya. Tidak ada kamus malas dalam mengisi waktu produktif kita. Bayangkan bagaimana seorang ulama menggunakan waktunya. Para ulama tidurnya hanya sebentar. Tengah malam ia bangun untuk salat, kemudian berdzikir dan berdoa, selepas itu menelaah buku-buku, kadang juga menulis. Itu dilakukannya sampai subuh. Selepas subuh ia tidak tidur. Sudah tidak ada waktu tidur lagi buatnya. Siang ia bekerja, mengajar, atau berkebun.

Kita perlu mencontoh orang-orang yang sukses bagaimana menggunakan waktu mereka. tidak ada waktu mereka yang terbuang dengan sia-sia.


Artikel Terkait

Opini 111644853372145949

Post a Comment

emo-but-icon

item