Membangun Karakter Generasi Muda Melalui Pendidikan yang Berintegritas

Oleh: Abduh Sempana

Sebenanya judul artikel ini merupakan tema yang pernah disuguhkan oleh panitia lomba menulis artikel di koran Radar Lombok beberapa bulan lalu. Saya sendiri tidak ikut lomba. Tapi, saya mencoba mengulas tema tersebut karena menurut saya cukup menarik. Maka, dengan senang hati, saya menulis artikel ini di sini. Cikidot.

Baca Juga: Satu Menit Pertama Akan Mempengaruhi Proses Pembelajaran Dua Jam Ke Depan

Membangun Karakter Generasi Muda Melalui Pendidikan yang Berintegritas

 Berbicara soal pendidikan, maka tidak lepas dari pembicaraan soal guru,  orangtua, masyarakat, dan pemerintah. Keempat komponen tersebut merupakan sistem yang tak terpisahkan. Masing-masing komponen memiliki peran dan tanggungjawab yang sangat besar terhadap pendidikan. Oleh karenanya, pendidikan sejatinya adalah tanggungjawab bersama.

Untuk menghasilkan pendidikan yang baik maka seyogyanya ditunjang oleh guru yang baik, masyarakat yang baik, keluarga yang baik, dan pemerintah yang baik pula. Jika salah satunya ada yang tidak baik, maka pendidikan tidak akan pernah bisa tercapai dengan baik. Ibarat mata rantai, jika salah satu bagiannya ada yang putus atau rusak maka roda tidak akan bisa berjalan dengan mulus, alih-alih berjalan dengan mulus, malahan akan tergelincir jatuh.

Lalu berbicara soal pendidikan yang baik, maka tidak terlepas dari soal integritas. Yang dimaksud dengan integritas menurut KBBI adalah penyatuan, keutuhan; jujur, dan dapat dipercaya. Dari pengertian ini bisa dilihat bahwa barometer pendidikan yang berintegritas berarti pendidikan yang menyatu dengan sistem. Sementara sistem yang dimaksud adalah mata rantai tadi, yaitu guru, sekolah, masyarakat dan stecholder. Syarat kedua adalah utuh, semua elemen yang disebutkan tadi harus kompak yaitu mewujudkan pendidikan yang baik. Selanjutnya jujur dan dapat dipercaya. Tentu ini adalah syarat mutlak untuk mencapai pendidikan yang berkualitas. Semua elemen harus jujur dalam mengungkapkan fakta. Guru harus jujur dalam menilai, tidak memihak, berdasarkan hasil analisa ilmiah. Sekolah juga harus jujur dalam mengekspos lulusan. Karena terkadang hanya demi nama baik sekolah, lantas kepala sekolah mengahalalkan berbagai cara untuk meluluskan murid-muridnya.

Lanjut soal integritas, yaitu memperbincangkan soal nilai murni. Karena ini sangkut pautnya masalah kejujuran. Secara garis besarnya kita ingin menjadikan ganerasi kita menjadi generasi yang jujur. Lalu pertanyaannya, sudahkah kita temasuk orang yang jujur? Guru yang jujurkan kita? Kepala sekolah yang jujurkah kita? Pemerintah yang jujurkan kita?

Kembali ke mata rantai tadi, jika salah satu saja ada yang tidak jujur, maka percuma saja. negara ini akan nyungsep ke dasar jurang. Guru jujur, tapi kepala sekolah tidak jujur, yang menang kepala sekolahnya, karena dia yang mengambil kebijakan. Lalu semua unsur sekolah berusaha jujur, tapi tekanan-tekanan memaksanya untuk tidak jujur. Tekanan apa? Saya juga tidak mengerti. Saya hanya melihatnya seperti misteri dalam terang. Entah mengapa sekolah-sekolah begitu takut dan ngeri. Ada bayang-bayang kehancuran tatkala ia berusaha jujur. Seakan-akan jujur membuat mereka “tidak makan, (meminjam syair lagunya H. Rhoma Irama)” Naudzubillahimindzalik.

Jika kita melihat pada tingkat integritas pada tahun lalu,  seperti yang telah dipublikasi oleh kemendikbud melalui situs resminya www.kemendikbud.co.id, ternyata pendidikan di Indonesia masih jauh dari apa yang kita harapkan selama ini. (Lihat: data selengkapnya di Kemendikbud Berencana Akan Merubah Konsep Ujian Nasional Tahun 2016 dengan Menambahkan Nilai Indeks Integritas)

Maka, untuk mencapai pendidikan yang berintegritas, tentu tidak terlepas dari peranan seorang guru yang berintegritas. Sehingga, sejauh ini apakah guru-guru kita sudah memiliki nilai integritas yang tinggi? Kalau belum, lalu bagaimana dengan murid-muridnya?

Ada suatu pernyataan mengatakan bahwa keadaan suatu negara mencerminkan apa yang terjadi pada sekolah-sekolah yang ada di negera tersebut (“As is the state so is the schools.”). Pernyataan ini memang mengena di akal. Selintas bisa kita saksikan di negara kita sendiri. Apa yang terjadi di negara Indonesia selama ini, boleh dibilang suatu fenoma yang berawal dari kebobrokan sistem di tingkat sekolah.

Memang, peran vital seorang guru dalam dunia pendidikan tidak bisa terbantahkan lagi. Meskipun harus bersinergi dengan ketiga komponen-komponen yang lain, namun tetap guru selalu menjadi target pembicaraan. Karena gurulah yang berhadapan langsung dengan murid-muridnya. Maka, seperti yang dikatakan tadi, pendidikan yang berintegritas boleh dibilang bermula dari guru yang berintegritas.

Kata Ki Hajar Dewantara, guru adalah “ing ngarsi sung tulodo”, yakni berada di depan, memberikan contoh teladan yang baik terhadap anak didiknya. Maka, guru harus bisa meyakinkan perserta didiknya. Gurulah yang berperan dalam membentuk karakter anak. Jika karakter guru masih setengah-setengah, maka cenderung akan mencetak generasi yang setengah matang pula. Coba lihat ketika kita makan singkong setengah matang, bukankah hanya mengundang sakit perut?

Berbicara lanjut soal guru, kita bisa merujuk pada undang-undang Nomor 14 tahun 2005 pasal I, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan guru oleh negara adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi anak didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Masing-masing guru sangat perlu mengetahui isi dari pasal tersebut, kemudian mengebangkannya, dan terus belajar dalam upaya meningkatkan ketajaman naluri dan frekuensi ilmunya. Sehingga tidak berimbas kepada peserta didik. Guru yang pemalas dan tidak mau belajar tentu akan berakibat buruk terhadap telur yang dihasilkan, yaitu murid-muridnya.

William Butler Yeats  mengatakan bahwa pendidikan bukanlah mengisi ember, tetapi menyalakan api. Itu berarti bahwa yang seharusnya guru lakukan bukan sekedar mengisi ilmu, tetapi bagaimana menanamkan ilmu  di dalam lubuk sanubari peserta didik, sehingga ilmu itu terus menyala sepanjang masa.

Pendapat lain mengatakan bahwa yang penting bukanlah apa yang dituangkan ke dalam otak murid, melainkan apa yang ditanamkan.

Kemudian Ralph W. Emerson juga mengatakan, rahasia pendidikan adalah menghormati murid. Mungkin selama ini kita tidak pernah sadar betapa kita begitu idealis terhadap murid-murid. Padahal apa yang kita mengerti tentang pemikiran kita tidak sejalan dengan perkembangan zaman. Itulah sebabnya guru harus terus menimba ilmu, selain untuk menambah wawasan juga menyelaraskan kemajuan teknologi di zamannya.

Guru harus bisa menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi seorang murid. Bagaimana pun upayanya. Sekolah dengan bentuk fisiknya seperti rumah panjang itu, harus menjadi sarana berbagi sekaligus menjadi tempat bermain. Sekolah tidak boleh menjadi persiapan untuk kehidupan. Sekolah harus menjadi kehidupanitu sendiri. (Elbert Hubbard).

Sementara Mell Lazaruz mengatakan, rahasia menghadapi anak dengan berhasil adalah dengan tidak menjadi orangtuanya. Itu artinya, seorang guru harus mengetahui di mana batas legal, profesional, dan pribadi.

Yup! Kembali ke soal intergritas tadi. Sampai saat ini kita memang sudah berusaha ke arah itu. Secara perlahan dan pasti semua komponen bersinergi untuk memajukan pendidikan di tanah  air. Namun, tentu dengan proses yang panjang dan bertahap. Semoga saja Indonesia lekas berubah dan mampu mencetak generasi yang berintegritas.

Artikel Terkait

Kabar Pendidikan 9033049577312366044

Post a Comment

emo-but-icon

item