Saat Aku Tak Diinginkan


“Saat Aku Tak Diinginkan”
Alfina Ratna Dewi

Jantungku berdebar, saat suara lantang pengumuman nilai ujian akhir semester dimulai. Sambil berdoa dalam hati, aku menunggu giliran untuk dipanggil ke depan.

Sial, aku gagal lagi! Aku mendapat peringkat  ke-10 dari 40 siswa. Tak ingin rasanya aku pulang ke rumah. Entah mengapa, kakiku terasa berat melangkah pergi.

Namamu Rika. Aku berumur 17 tahun. Aku punya saudara kembar Rizka namanya. Kami hanya berbeda 30 menit dan dia adalah kakakku.

Setelah sampai di rumah, terdengar suara tawa yang sangat bahagia. Ayah dan ibu pasti sedang memuji nilai kak Rizka lagi, kataku sambil berjalan ke depan pintu.

Baru saja aku muncul dari pintu,  aku langsung diserang dengan pertanyaan tanpa ada titik dan komanya.

“Akhirnya kamu pulang, berapa nilaimu!” Tanya ayah yang sambil melotot padaku. Tapi, aku diam saja.

“Apa sekarang kamu sudah bisa, sampai-sampai pertanyaan ayahmu tidak kamu jawab?” Ibu mulai menyambung.

“Ayah, Ibu, sudahlah. Jangan tanya Rika seperti itu.  Bukankah nilainya sudah dipastikan di bawah standar keluarga kita.” Kata kak Rizka yang mulai menyindirku.

“Dasar anak bodoh kamu. Sudah bodoh, memalukan lagi.” Bentak ayah dengan nada tinggi.

“Itu lihat kakak kamu Rizka, nilainya tinggi.” Kata ibu menyambut.

Hatiku sangat terluka. Jiwaku tersiksa. Mereka semua menyudutkanku. Aku semakin merasa tertekan dalam keluarga ini.

Ingin rasanya aku menangis di depan meraka. Namun aku lekas berlari menuju ke kamar tidur. Nafasku mulai berat dan tanpa terasa air mataku pun mulai meleleh di pipi. “Ya, Tuhan, kuatkan batinku agar aku bisa menahan semua ini. Tak lama setelah itu, aku pun turun untuk makan malam. Aku berusaha melupakan semua kejadian tadi.

“Selamat malam semuanya.” Kataku sambil tersenyum.

Aku mulai menyantap nasi yang sudah dihidangkan di meja makan. Sementara ayah mulai berbicara.

“Rizka, bukankah kamu akan mengikuti olimpiade tingkat nasional?” kata ayah sambil tersenyum menatap Kak Rizka.

“Ayah dan ibu akan datang kan?” Kak Rizka balik bertanya.

“Ya, ayah dan ibumu akan hadir untuk menyaksikan kamu bertanding.”

“Bagaimana dengan Rika, apa ayah dan ibu tidak menyaksikannya?” Tanya kak Rizka lagi.

“Buat apa menonton Rika, ujung-ujungnya memalukan.” Lanjut ayah sambil menguyah makanannya.

“Benar, Ayah, Rizka pasti kelihatan cantik dan menawan di atas panggung.” Sambut ibu sambil mengulas rambut Kak Rizka.

Waktu pun terus berlalu. Usai menikmati hidangan malam, aku pun kembali ke kamarku. Besok adalah hari yang penting buatku. Aku tidak boleh menangis, kataku dalam hati sambil berusaha memejamkan mata.

Keesokan harinya aku bersiap-siap untuk ke pertandingan. Ayah dan ibu benar-benar tidak dantang untuk menyaksikanku. Aku berjuang sendiri di atas ring. Tak seorang pun orang-orang terdekatku yang memberikanku semangat. Tapi aku berusaha untuk tampil maksimal. Aku tidak boleh menyerah. Hingga akhirnya pertandingan pun berakhir.

“Kita sambut sanga juara baru dalam dunia persilatan, Rika!” pekik sang juri dengan penuh semangat.

Orang-orang yang hadir di tempat itu pun bersorak-sorak. “Rika, Rika, Rika, .........”

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa dihargai dan dipuji-puji. Aku pun pulang dengan senyuman bahagia. Kupajang medali dan piagamku di ruang tamu agar ayah dan ibu bisa melihatnya.

Akhirnya, ayah dan ibu pun pulang. Kusambut mereka dengan senyuman. Tapi, entah mengapa kulihat wajah kak Rizki muram. Ia menatap medali yang kupajang dengan wajah kecut.

“Kamu pasti senang karena untuk pertama kalinya aku kalah dengan mu,” kata kak Rizka sambil berlari ke dalam kamarnya.

“Dasar anak bodoh, kamu mau menunjukkan apa? Apa kamu lebih bisa dari Rizka! Cuma piala segitu doang! Sana menyingkir!” Bentak ibu sambil mendorong tubuhku.

Hampir seharian kak Rizka di dalam kamar. Ia tak mau makan, tak mau minum. Aku pun masuk ke dalam kamarnya untuk membawakan makanan untuknya. Tapi aku sangat terkejut saat melihat tubuh kak Rizka tergelatak di lantai kamarnya. Dan makanan yang aku bawah terjatuh berantakan  di atas lantai.

“Kak, kak Rizka, bangun kak!

Aku pun berteriak memanggil ayah dan ibu.

“Tolooong! Ayah, Ibu, kak Rizka pingsan!”

Terdengan suara kakinya bergemuruh dari lantai bawah.

“Rizka kenapa kamu, Nak. Bangun, Rizka!” Kata ayah.

“Bangun sayang, kamu kenapa?” Ibu terlihat cemas sekali.

Tanpa berlama-lama kak Rizka pun di bawa ke pergi ke rumah sakit. Kak Rizka dimasukkan di ruang UGD. Kami semua menunggu di luar dengan perasaan cemas.

Beberap waktu kemudian dokter pun keluar dengan wajah yang sedikit tegang.

“Bagaimana dengan keadaan anak saya, Dok?” Tanya ibu.

“Ya, Dok, ada apa dengan Kak Rizka!” Ucapku juga.

“Tenang, tenang dulu, ya. Masih bisa diatasi, meskipun dengan jalan yang sangat....”

“Kenapa, Dok, kenapa?” Kata ibu tidak sabar.

“Anak ibu harus dioperasi.”

Denyut nadiku serasa terputus seketika. Sementara ibu juga pingsan. Ayah segera menolongnya.

Ada apa dengan kak Rizka. Mengapa secepat itu ia dioperasi. Bukankah selama ini dia baik-baik saja. Pikirku membantin.

Beberapa menit kemudian ibu pun siuman. Aku segera memberinya air minum. Dokter masih ada di tempat itu.

“Jantung anak Bapak mengalami kerusakan. Jadi, harus dilakukan penanganan serius dengan mengoperasinya.”

“Terus apa yang harus kami lakukan, Dok?” Tanya ayah.

“Apakah dia punya saudara?”

“Ya, ini adiknya Dok.”

“Mungkin jalan satu-satunya ialah mencangkokkan jantung adiknya.”

Sang dokter pun pergi. Suasana menjadi hening. Ayah dan ibu saling berpandangan. Kemudian mereka beralih menatapku hampir bersamaan.

“Ayah, Ibu, jika kalian disuruh memilih antara Kak Rizka dengan aku siapa yang kalian pilih?” Kataku di dalam hati.

***
Keesokan harinya aku menitipkan surat kepada dokter.

Setelah dioperasi, Satu hari, dua hari, Kak Rizka pun berangsur-angsur sembuh. Pas di hari ketiga setelah dioperasi, pas dengan hari ulang tahunnuya, juga saya.  Ayah dan ibu pun memberikan selamat ulang tahun kepada Kak Rizka.

“Ma, Pa, di mana adikku Rika, aku dan dia kan ulang tahun hari ini.” Kata Kak Rizka.

Tiba-tiba dokter datang. “Ini surat untuk Anda, Tuan, dan Nyonya.”

“Terima kasih, Dok.” kata ayah.

Ayah pun membaca suratku itu.


Untuk Ayah dan Ibu, serta Kak Rizka.

Untuk Ayah:
Ayah,  aku sangat mencintaimu, Yah. dan sangat menyayangi Ayah. Dulu saat masih kecil, Ayah sering mengajak aku dan Kak Rizka pergi jalan-jalan. Namun mengapa setelah aku besar ayah membenciku. Apa salahku Yah? Tapi tidak mengapa Ayah, asalkan Ayah masih menganggapku anakmu Ayah.

Untuk Ibu:
Ibu, setiap hari aku merindukanmu Ibu. rindu kasih sayang Ibu, cinta ibu, belaian lembut ibu. Tapi apa salahku sehingga  Ibu kini tidak memperhatikanku lagi. Ibu tak mau lagi menciumku saat aku tidur. Aku selalu iri pada Kak Rizka. Maka, aku mau dalam tidur panjangku kali ini, aku harap ibu menciumku dengan kasih sayang.

Untuk Kak Rizka:
Kak, aku bahagia bisa punya kakak yang pintar. Aku rela memberikan jantungku untuk kakak. Walaupun aku harus pergi Kak. Selamat ulang tahun ya, Kak! Mungkin sepanjang hidupku aku tak akan bisa merasakan umurku yang ke-18, tapi aku sangat bahagia karena jantungku yang bodoh ini bisa merasakan keceriaan dan kepandaian Kakak. Aku menyayangimu Kak.”

Dari Rika Putri.


Tentang penulis:
Alfina Ratna Dewi
Siswi MTs NW Boro'Tumbuh

Lihat juga: Kumpulan Cerpen Karya Siswa-Siswi MTs NW Boro'Tumbuh 

Artikel Terkait

sastra 6886000308749148009

Post a Comment

emo-but-icon

item