Perjuangan Hidup Rini

Perjuangan Hidup Rini

by: Sofa Marwati

Air keringat membasahi pipinya. Langkah kakinya yang terayun-ayun dalam setiap hembusan nafas.  Dia, seorang anak yang menjual kue, demi menyambung hidup keluarga kecilnya.

“Kue, kue, kue ....” Rini mempromosikan kuenya. Wajahnya nyaris pucat di bawah terik sinar mentari. Di lorong-lorong yang sempit, di gang-gang yang padat penduduk, di jalan yang berdebu, Rini selalu bersemangat menjajakan kue-kuenya.

Rini tinggal bersama ayahnya, Hasan, serta adiknya yang masih kecil, Rina. Ayahnya kini sedang sakit. Dulu ayahnya adalah seorang penjual koran bekas. Namun sekarang ia tidak bisa bekerja. Kakinya lumpuh. Sementara ibunya meninggal dunia beberapa tahun lalu.

Rini adalah anak kelas enam SD. Dia tidak pernah merasa putus asa dengan kondisi keluarga. Sehingga ia bercita-cita untuk membahagiakan keluarganya.

Rini tidak pernah merasa malu dengan teman-temannya di sekolah. Bahkan di sekolah pun dia berjualan kue juga. teman-temannya banyak yang suka membeli kuenya, karena kue-kuenya banyak pilihan rasa.


24 jam kemudian ...

Rini bergegas menyiapkan kue-kuenya yang akan dibawa ke sekolah. Dia pun pamitan pada ayahnya. Setelah beberapa menit, akhirnya Rini tiba di sekolah. Ketika langkah kakinya berada di depan kelasnya, tiba-tiba dia terjatuh. Kue-kuenya juga terlempar berantakan. Teman-temannya melihat kejadian itu. Ada yang kasihan, ada pula yang kelihatan acuh tak acuh. Dan tiba-tiba ada salah satu temannya yang menhampirinya.

”Hai, Si Miskin! Kenapa masih jualan kue sih! Kalau mau jualan pulang aja sana! Udah miskin, sekolah di tempat gaul lagi. Emangnya gak malu apa!

Rini tidak membalas. Dia hanya diam memandang kue-kuenya.


5 jam kemudian ...

Bel sekolah berbunyi. Anak-anak bergegas merapikan tas dan segera pulang. Rini pun melangkah bersama teman-temannya untuk pulang. Ketika sampai di rumah, dia melihat semua orang berdatangan ke rumahnya. Rini bingung apa sebenarnya yang terjadi.

“Bu, apa sebenarnya yang terjadi di rumahku?” tanya Rini dengan perasaan was-was. Ibu itu pun menjawab, “Ayahmu meninggal, Rini!”

“Apaaa!!! Ayah meninggal!?” Pekik Rini.

Rini pun tenggelam dalam tangisan pilu yang menghujam hingga ke ulu hati. Adiknya yang ada disampingnya ikut menangis memeluk Rini. Sementara sang ayah terbujur kaku di depan mereka.


***
Waktu demi waktu berlalu. Rini masih tetap memikirkan ayahnya. Dia selalu termenung seorang diri. Pikirannya melayang entah ke mana.

Pagi berlalu dan malam pun tiba. Ketika Rini tertidur ia bermimpi. Dalam mimpinya ia berjumpa dengan ayahnya. Sang ayah berkata “Rini, kamu adalah anak yang tangguh, mandiri. Jangan pikirkan ayah, Nak,”

Rini pun terkejut dan terbangun dari tidurnya. “Ayaaah!!!” kata rini.

“Kakak kenapa,” Kata Rina.

“Tidak dek, kakak tidak kenapa-napa.”

Ayam berkokok, pagi pun telah datang.  Rini yang semalam sudah memimpikan ayahnya, kembali bersemangat untuk bekerja dengan berjualan kue-kue.

“Kue, kue, kue .....” teriak Rini di sebuah gang yang sempit. Rina membuntutinya dari belakang.


Tentang penulis:
Sofa Marwati
Siswi MTs NW Boro'Tumbuh
Lihat Kumpulan Cerpen Siswa-Siswi MTs Boro'Tumbuh Di SINI

Artikel Terkait

sastra 6816796493509387203

Post a Comment

emo-but-icon

item