Cerita Bunuh Diri Yang Tak Rampung

Ilustrasi: Fixabay
Cerita Bunuh Diri Yang Tak Rampung
Oleh: Abduh Sempana

***
Aku ingin mengakhiri hidup ku malam itu. Sebuah belati sudah kugenggam di tangan kananku. Lampu pun sudah kumatikan. Pintu sudah kututup rapat agar tak seoarang pun yang tau apa yang sedang aku lakukan saat itu. Kemudian aku memejamkan mata. Tiba-tiba ada sesuatu yang aneh di dalam pikiranku. Bayangan api yang berkobar membakar sekujur  tubuhku. Api itu membesar dan terus membesar. Hingga akhirnya kuputuskan untuk membuka mataku.

Seorang laki-laki tua sudah berdiri di depanku. Mengenakan kain putih-putih. Berjenggot tebal berwarna putih pula. Mungkin karena keputusasaanku saat itu, aku tak merasakan apa-apa, apalagi terkejut. Bahkan aku merasa semakin berhak untuk mengakhiri hidupku. Kemudian ia memegang tanganku. Terasa dingin. Dilepaskannya pisau belati dari genggamanku. Aneh, aku tak mampu berbuat apa-apa. Tidak lama kemudian ia kembali memegang tanganku dan kali ini dengan menggenggamkanku sebuah tasbih. Ia  langsung menghilang.

Perasaanku yang begitu kalut tak membuatku peduli dengan apa yang terjadi. Seaneh apa pun. Seunik apa pun. Aku sudah terlanjur dalam posisi yang rumit. Sulit bagiku untuk mengubah haluan.

Satu mati, dua mati. Satu bunuh diri, dua bunuh diri. Tidak ada pilihan lain. Aku harus menuruti apa kata hatiku yang paling dalam. Dan saat itu mati adalah keputusan hatiku yang kuanggap paling bijak.

Selamat tinggal dunia. Kau telah memberikan banyak hal kepadaku. Asam garamnya kehidupan sudah kucicipi cukup banyak. Terima kasih ibu, terima kasih ayah, kau telah membesarkanku dengan tali kasihmu. Tetapi maafkan aku, kali ini engkau gagal membuatku menjadi anak yang soleh, seperti kalimat doa setiap sembahyangmu. Selanjutnya terimakasih isteriku, kau juga telah banyak memberiku segala sesuatu yang kuinginkan darimu, terutama keinginanku untuk mengawinimu. Terimakasih juga anakku, maafkan aku tak bisa menemanimu hingga dewasa. Aku tak bisa membuatmu bahagia lagi.

Jdhkahdaakgkapjgoandglknrkgjaojfggamgg;lam......................
hdhdhkadhlfahdkfhdkjhfakdhkfahdkjfH................

***

Malam pun semakin larut. Kemudian aku tak sadarkan diri.

Paginya kulihat istriku memegang kertas yang kutulis semalam. Ia membacanya dengan hati-hati sambil air matanya tumpah ruah. Hingga kertas itu terlihat basah.

Seingatku semalam aku menulis sebuah cerpen yang bejudul Bunuh Diri namun belum rampung. Aku malas meneruskannya. Entahlah, aku pun lupa menaruhnya di mana. Dan di temukan di mana pula aku tak tau. Seingatku kertas itu......ah, aku juga bingung.

Ku hampiri isteriku yang sedang menagis itu. Ia memelukku dan seperti ingin megatakan sesuatu di telinga kananku. Air matanya tumpah di pundakku. Menangis dan terus menangis. Belum sempat ia mengutarakan sesuatu itu. Anakku datang.

“Yah, ayah sedang apa?”

Isteriku langsung memeluk anaknya.

“Yuk, kita main lagi...”ajakku sambil merebutnya dari isteriku.

“Tidaaaaaaaak...”

Tiba-tiba isteriku berteriak histeris. Dalam hitungan detik tetangga sudah kumpul seperti antre beras jatah.

Aku semakin bingung. Sementara isteriku tetap saja menangis. Orang-orang terdekatku semunaya menangis. Aku tak tau harus berbuat apa. Aku berusaha meyakinkan orang-orang bahwa tidak terjadi apa-apa pada keluarga kami. Tetapi orang-orang semakin banyak berdatangan. Entahlah, dari mana datangnya aku tak tahu. Mereka seperti orang-orang asing. Banyak diantara mereka yang tidak aku kenal. Mereka duduk diteras rumah, di halaman, di pinggir pagar semua penuh dan saling berdesakan. Yang laki-laki membawa uang, sedangkan yang perempuan membawa beras.

Artikel Terkait

Cerpen 1625137541052705888

Post a Comment

emo-but-icon

Kabar Terbaru

item