Cerita Inspiratif: Hidayah Melalui Cinta yang Tulus


Oleh: Fadly R. Siddiq

Semua orang pasti punya masa lalu yang kelam. Tapi bukan berarti masa lalu itu akan memponis seseorang kalau masa depanya akan kelam. Tidak! Belum tentu. Karena hidayah bisa saja datang dengan kehendak Allah SWT. Contohnya Ustadz Jefri Al Bukhari. Dulu beliau termasuk pecandu narkoba, pecandu khamar, bahkan semua jenis minuman khamar sudah beliau coba. Tapi siapa yang menyangka, setelah beliau menerima hidayah, beliau berubah 180 derajat bahkan beliau menjadi seorang ulama, seorang ahli hadis, dll.

Begitu juga kisah seorang pemuda dari sebuah desa yang bernama Tumbuh Mulia. Pemuda ini bernama Rahman. Sebelum hijrah, ia pemuda yang dikatagorikan brandal. Ia suka sekali  meminum khomar, bahkan rokok tiga bungkus tidak cukup untuk satu hari.

Suatu ketika, Rahman beserta teman temanya merencanakan mencuri bebek seorang warga yang tidak lain tetangga Rahman sendiri. Rencana merekapun berhasil. Rahman dan teman-temanya berhasil mencuri dua bebek ekor untuk dipanggang bersama-sama temanya, karena malam itu juga dengan malam ultahnya Rahman.

Dengan perbuatanya itu, sedikit pun mereka tidak merasa bersalah. Malah mereka berkeinginan untuk mencuri lagi. Rahman sendiri ketagihan memakan barang haram karena ketika lagi makan- makan ia sangat bahagia tanpa merasa bersalah. Tidak hanya itu, mereka juga sering mencuri manga, ubi, bahkan mengganggu wanita  yang mereka temui di jalan.

Suatu hari mereka berkumpul di sebuah warung kecil sambil meminum miras. Tapi entah kenapa Rahman sendiri tiba-tiba seperti merasa ketakutan ketika meminumnya, padahal Rahman sudah terbiasa.

Dan ternyata Rahman seperti itu karena lagi mencintai seorang wanita yang shalehah dan sederhama. Rahman baru mengenalnya tetapi ia langsung jatuh cinta pada saat pandangan pertama. Rahman sangat tertarik dengan akhlak dan budi pekertinya yang lembut. Ketika Rahman membayangkan wajah wanita tersebut, hatinya menjadi nyaman. Maka semenjak Rahman mengenenal wanita itu, ia merasa aneh pada dirinya. Contohnya, ia merasa takut ketika berhadapan dengan alkohol. Ia juga merasa khawatir ketika hendak.mencuri karena alasan takut memgecewakan wanita tersebut. Teman-teman Rahman pun heran dengan keadaanya. Karena sangking herannya, temam Rahman menanyakam keadaanya yang aneh ini dan Rahman pun menjawab bahwa ia begini karena ia ingin tobat, Ia kepikiran atas dosanya, lantas ia ingin hijrah. Mendengar jawaban tersebut, seluruh teman-temannya pun tertawa terbahak-bahak tapi Rahman memgabaikan.

Perempuan yang menaklukan hati Rahman sebelumnya mengetahui tingkah lakunya selama ini karena Rahman sendiri menceritakannya karena ia tak ingin ada dusta di antara mereka. Begitu juga dengan perasaanya, Rahman juga mengungkapkan perasaanya terhadap perempuan tersebut, dan perempuan itu kagum atas kejujuran Rahman akan dirinya.

Perempuan itu mau dekat dengan Rahman dengan syarat harus meninggalkan semua keburukan yang ia telah lakukan. Tanpa berpikir panjang Rahman langsung mengiyakan dan mulai saat itu Rahman lebih mendekatkan dirinya pada Sang Pencipta. Rahman membuktikan kesungguhanya dalam berhijrah dengan menghindari kebiasaan-kebiasaan buruknya, ia tidak mau ketika diajak meminum miras.

Dua minggu lebih Rahman menjauh dari teman-temanya dan selalu menyendiri untuk beribadah. Keadaan ini membuat temannya semakin heran demgan keadanya, soalnya tumben sekali ia menolak untuk diajak meminum miras. Dan ternyata penyebabnya adalah wanita yang baru ia kenal.

Setelah mengetahui penyebabnya, teman temanya pun marah dan kecewa. Mereka pun mendatangi  dan membentak Rahman. Tapi ia selalu tenang sambil berkata, "Aku takut sama Allah". Semua teman-temanya pun tertawa mendengar ucapan Rahman karena tumben mereka mendengar ucapan seperti itu yang keluar dari mulut Rahman. Sambil tertawa teman-temanya mengatakan, "Nikmati masa muda mu dulu brow, besok kalau udah tua baru tobat.’’  Mendengar itu Rahman lamgsung membalasnya, "Bukan kah maut tidak memandang umur?, bertobatlah kawan." Seketika semua teman-temanya serentak mengatakan bahwa Si Rahman itu munafik. Tetapi Rahman hanya membalasnya dengan senyuman. Sebelum teman-temanya pergi, ia diberi dua pilihan, sahabat  atau wanita itu. Dengan tenang Rahman menjawab. "Aku memilih Allah dan Rasulnya Karena telah memberikan aku hidayah melalui perempuan itu.” Dengan rasa kesal, teman temanya langsung pergi sambil mengatakan, “Persahabatan kita samapai di sini.”

Singkat cerita, kejadian tersebut didengar oleh  wanita tersebut dan kagum atas keteguhan hatinya dan pada saat itu perempuan tersebut mulai mencintai Rahman karena Allah SWT.
Suatu hari Rahman menemui wanita itu sambil mengatakan, “Izinkan aku menunggumu karena-Nya sambil aku memperbaiki akhlakku, wahai wanita yang menyejukkan hati ku.” Dengan merunduk malu, wanita itu menjawab, ”Silahkan jika Rahman sanggup.” Rahman pun sangat bahagia mendengarnya dan berjanji untuk selalu menunggu wanita yang ia cintai.

Semenjak itu, Rahman semakin meningkatkan kualitas ibadahnya sebagai tanda syukurnya atas nikmat yang di berikan oleh-Nya. Tapi ada yang aneh setelah hijranya, ia sering didatangi oleh wanita lain untuk mencari perhatianya. Tapi ia selalu mengabaikan dan setia menunggu pujaan hatinya sambil berkata kepada wanita-wanita yang mendatangi dirinya, “Mungkin kecantikan ukhti lebih indah dari pujaan hatiku. Tapi pujaan hatiku lah yang menerima masa lalu ku yang kelam itu dengan ikhlas dan kesetiaanku tertuju padanya.”

Setelah itu sudah tidak ada lagi yang mendatangi Rahman. Mungkin karena malu, dan Rahman sendiri masih menunggu pujaan hatinya sampai sekarang.

***

“Jangan pernah mengucap selamat tinggal, jika kamu masih mencoba. Jangan pernah menyerah, jika kamu masih merasa sanggup. Jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika kamu masih  tidak dapat melupakanya.”

Artikel Terkait

sastra 5967749808221027634

Post a Comment

emo-but-icon

Cara Membuat Kue

Kabar Terbaru

item