Kekecewaan Sang Bidadari

Kekecewaan Sang Bidadari
Oleh: Fadly R. Siddiq

Jika hati wanita kecewa
Bagaikan kaca yang sudah pecah
Yang tidak bisa dibentuk lagi dengan sempurna.


Suara itulah yang kudengar dari lisan seorang perempuan yang sederhana. Ia menjadi korban kesalah pahaman dalam bercinta.

Jumatul Listarina, itulah namanya. Gadis yang polos yang tidak pernah berpacaran. Teman temanya biasa memanggilnya Inot.

Suatu hari, ada seorang lelaki  yang naksir padanya. Lelaki tersebut mengajak Rina untuk berkenalan dan lekaki tersebut meminta nomor teleponnya dengan alasan agar bisa berdiskusi. Karena Rina suka sekali berdiskusi. Tanpa berpikir panjang Rina pun memberi nomernya. Lekaki tersebut bernama Rahman.

Semenjak itu mereka sering saling kabarin lewat hape. Hari demi hari mereka lewati sehingga mereka dekat sekali. Karena saking dekatnya Rahman memberanikan diri untuk menembak Rina. Tapi Rina menolak diajak pacaran dengan alasan takut sakit hati. Mendengar jawaban itu, Rahman akhirnya mengajak Rina untuk bertaarrufan dan Rina pun mengiyakan sambil tertunduk wajahnya.

Semenjak mereka resmi bertaarufan, hampir setiap malam mereka saling sms-san atau bahkan telefonan. Cinta Rahman pada Rina semakin mendalan.

Rahman membuktikan cintanya dengan membuatkan dan menulis shalawat sebanyak 1000 shalawat. Khusus untuk orang yang dia cintai. Setelah jadi, Rahman memberitahu Rina kalau ia sudah membuatkan shalawat bentuk cintanya kepada dirinya dan besok ia akan memberikannya secara langsung. Mendengar ucapan tersebut Rina sangat bahagia dan tidak sabar menanti hari esok.

Setelah waktu yang ditunggu-tunggu sudah tiba, Rina pun sangat bahagia dan menunggu Rahman dan tidak sabar ingin melihat shalawat yang di buatkan untuknya. Dua jam kemudian, Rahman belum juga datang dan Rina mulai bosan menunggu. Rina menduga kalau Rahman tidak menepati janjinya. Dugaanya itu pun benar, Rahman tidak kunjung datang dan akhirnya Rina pun kecewa. Ketika Rina menelpon Rahman untuk.meminta penjelasanya tapi justru Rahman tidak mengangkatnya. Rina pun semakin kecewa karena sangat berharapnya pada Rahman kalau dia akan datang untuk menepati janjinya. Sambil menangis Rina mengatakan,”Menyesal saya berharap dan percaya”. Semenjak kejadian itu, Rina marah sekali kepada Rahman.

Tiga hari berselang, tiba-tiba ponsel Rina berdering dan ternyata itu dari Rahman, lekaki yang tekah mengecewakanya. Sudah berapa kali hapenya berdering tapi Rina tidak ingin mengangkatnya. Karena bosan mendengar suara hapenya yang terus berdering, akhirnya Rina pun mengangkatnya dan pertama kali yang keluar dari lisan Rahman adalah kata maaf dan terdengar suara Rahman yang terlihat sedih. Tapi Rina mengacuhkan sambil berkata,”Sudahlah, lupakan saya, anggap kita tidak saling mengenal”. Mendengar jawaban itu Rahman langsung mengatakan, “Rina, saya bisa jelaskan,” tapi telponanya langsung dimatikan oleh Rina. Rahman pun terus menelpon Rina. Semetara itu Rina pun berpikir apa salahnya mendengarkan alasan Rahman.

Ketika Rahman menelpon terakhir kalinya, Rina langsung mengangkatnya dengan memakai suara yang agak dingin dan Rahman meminta waktu untuk menjelaskanya dan Rina pun memberikan Rahman waktu. Rahmanpun mulai menjelaskan,”Rina, sebelumnya aku minta maaf, maafkan aku yang tidak menepati janji ku. Aku tidak datang saat itu karena bapakku jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit Selong. Sebenarnya aku ingin ke sana menemuimu tapi ibuku sendirian menjaga bapakku. Aku tidak tega meninggalkan ibuku dalam keadaan sedih”. Mendengar penjelasan itu, mata Rina tiba-tiba memerah sambil mengatakan, “Aku yang minta maaf seharusnya, karena berprasangka buruk kepada mu (sambilterdengar suaranya menangis)”. Setelah Rahman menjelaskan semuanya, akhirnya Rina pun faham dan mengerti dan mereka pun baikan.

Setelah itu, Rahman mengajak Rina untuk ketemuan tapi Rina menolak dengan alasan tidak baik, dan ucapan Rina itu benar. Tapi mereka tetap saling chat dengan mengutamakan kenyamanan.

Setelah hubungan taarufan mereka menginjak 1 bulan, tiba tiba Rina ingin sekali Rahman membahas masalah cinta  ketika chat atau ketemuan. Padahal Rina sendiri tudak.mau diajak ketemuan. Dan ternyata setelah kejadian tersebut, Rahman jarang sekali membahas masalah cinta bahkan tidak pernah karena takut nanti ia akan berjanji dan mengingkarinya lagi.

Rahman pun heran sambil memgatakan, “Perempuan itu sulit di tebak dan mengherankan”. Tapi Rahman mengiyakan karena ia juga ingin bertemu dengan Rina.

Mereka pun berjanjian untuk bertemu di depan pintu gerbang masjid. Karena Rina sendiri sering shalat berjamaah di masjid bahkan hampir di setiap waktu  karena rumahnya tidak berjauhan dengan masjid, sehingga mereka berjanjian di sana sambil shalat berjamaah.

Dengan penuh semangat, Rahman tidak ingin lagi membuat Rina kembali.kecewa untuk yang kedua kalinya dan ia akan meninggalkan semua kesibukanya yang tidak terlalu penting. Tapi Rahman tetap khawatir bakalan mengecewakan Rina lagi. Karena akhir akhir ini ibunya Rahman sakit sakitan, Rahman takut dan khawatir jika jadwal pemeriksaan penyakit ibunya sama hari janjian mereka bertabrakan tapi Rahman terap optimis dan akan berusaha sekuat kemampuanya untuk menepati janjinya.

Semakin hari semakin dekat hari janjian mereka. Rahman pun semakin was-was karena khawatir tidak bisa menemui Rina karena merawat ibunya tapi di sisi lain Rahman tidak ingin lagi membuat Rina kecewa. Rahman ingin menenangkan hatinya dengan cara mengambil air wudlu dan shalat sunnah dua rakaat. Setelah itu Rahman tidak lupa berdoa kepada Sang Maha Pencipta yang mengatur semua jagat alam ini agar semuanya baik baik saja dan berharap hatinya akan tenang setelah berdoa. Dan ini bunyi doa Rahman, “Ya Rabbi, lancarkanlah semua urusanku. Jika pertemuanku dengan Rina adalah baik, maka lancarkanlah Ya rabbi. Tapi jika pertemuanku denganya tudak baik maka kuserahkan semuanya kepada-Mu. Karena Engkaulah yang maha tahu atas segala sesuatu. Ketentuan Mu adalah yang terbaik”.

Setelah selesai berdoa, hati Rahman terasa tenteram dan tidak was-was lagi. Ia menyerahkan semuanya pada Sang Pencipta. Ia ikhlas apaun yang terjadi pada hubunganya dengan Rina.

Ketika hari itu telah tiba dan bertepatan hari itu sakit ibunya semakin parah dan harus di bawa ke puskesmas Kerongkong. Mau tidak mau ia harus pergi ke rumah sakit dan ia tidak bisa hadir untuk bertemu dengan Rina. Dan ketika hendak ke rumah sakit hape Rahman ketinggalan karena sangking terburu burunya.

Rahman sudah tau  kalau Rina pasti sangat kecewa karena tidak menepati janjinya. Tapi Rahman tidak punya pilihan lain dan ia akan menjelaskan semuanya pada Rina setelah keadaan ibunya membaik. Rahman tiba-tiba ingat akan doanya, ternyata Allah tidak mengizinkan mereka bertemu.

Setelah lama menunggu dan Rahman tak kunjung datang. Rina pun menangis dan ia pun kecewa untuk kedua kalinya. Tapi Rina menunggu jawabannya tapi tidak bisa dipungkiri bahwa Rina kecewa berat. Dua hari Rahman tidak menghubungi Rina karena masih masih menunggu ibunya di Puskesmas. Wajar Rina kecewa karena ia tidak tau alasan dan keadaan Rahman.

Sudah satu minggu lebih Rahman tidak menghubungi Rina dan ada isu yang sampai di telinga Rina kalau Rahman sudah tertarik pada perempuan yang jauh lebih cantik darinya. Mendengr isu tersebut, Rina semakin sedih dan kecewa lalu ia memgurung diri sambil menangis. Di tengah kesedihanya dan kekecewaanya Rina membuat kata kata indah  yang berbunyi,
“Adakah seorang pangeran yang tega menyakiti hati pujaan hatinya?”
“Akankan seorang pangeran yang tega menodai kesucian derajatnya?”

Dengan suara tersedu-sedu ia mengatakan, “Aku ingin mencari seorang pangeran yang menjaga hati seorang perempuan. Aku ingin mencari pangeran yang apabila ia dirayu oleh seorang bidadari yang lain, ia sanggup mengatakan (aku sudah memiliki sang bidadari dan aku tudak ingin melihat matanya yang cantik harus penumpakhan tangis kesedihan. Aku juga tidak ingin melihat pipinya yang lembut harus terbasah karena tangisan kekecewaan). Adakan pangeran seperti itu?”

Selanjutnya Rina juga mengatakan, “Ini yang aku takutkan, sakit yang berlebihan.” Rina pun berkomitmen untuk melupakan Rahman dan tidak akan memberikan kesempatan lagi kepadanya. Jika perempuan sudah kecewa dan berkomitmen melupakan masa lalunya. Maka sangat cepat sekali wanita melaluinya.” Itulah pesan yang dikirim Rina untuk orang yang sudah mengecewakanya. Tapi 4 hari setelah pesan itu di kirim baru Rahman membacanya karena selama ini ia tidal pernah membawa ponsel karena sibuk.mengurus ibunya. Setelah memahami isi pesan tersebut Rahman langsung membalasnya tapi Rina tidak membalas.

Gambaran chat-an Rahman denga Rina:,
Rahman    : Assalamualaikum
Rina     : Waalaikumussalam wr wb
Rahman    : Adek, aku bisa jelaskan
Rina    : Tidak perlu dijelaskan lg kk
Rahman    : Adek pasti kecewa (dgn emoji sedih)
Rina    : Banget! (dengan emoji marah)
Rahman    : Aku minta maaf, akan qw jlaskan adk

Tetapi tidak ada jawaban lagi, Rahman terus mengecat Rina dengan pesan QW MINTA MAAF. Mungkin ada sepuluh pesan yang sama dikirimkan Rahman untuk Rina. Setelah beberapa menit, Rina pun membalasnya.
Rina     : Ya, qw sudah memaafkan, tapi taarrufan kita sampe di sini kk
Rahman    : Aku mohon dk jangan putuskan taarrufan kita
Rina    : Maaf kk itu keputusan qw, mohon dihargai. Sampai di sini ya kk. Qw takut patah hati lagi, dan takut kecewa lg. Carilah yang lain kk
Rahman    : Ya sudahlah, jika itu maunya adk dan adk akan tahu betapa cintanya qw terhadap adk.

Beberapa jam kemudian, Rahman mengirim pesan yang berisi penjelasan dan puisi yang menggambarkan penyesalan serta kesedihan batinya, Rahman juga menggambarkan betapa berartinya Rina di dalam hatinya:
“Akankah  kumembiarkan ibu ku sendiri di rumah sakit?
 Anak mana yang tega membiarkan ibunya terkujur sakit tanpa harus berbuat apa apa..
Akan kah kupergi meninggalkan ibuku ketika ibu membutuhkan ku?
Tegakah aku meninggalkan orang yang mengandung ku demi menepati janjiku pada seorang wanita?

Berpikirlah adek....
Coba adk bera da di posisi kakak. Pasti adek akan melakukaan hal yang sama.

Perlu adek ketahui,  aku sempatkan diri ku memikirkanmu di saat suasana genting. Aku juga memikirkan perasaan mu. Tapi di sisi lain, mana mumgkin aku tega meninggalkan ibu ku di rumah sakit? Berpikirlah adek,  tolong jangan mengambil keputusan ketika marah. Adek begitu berharga di hati ku. Tolong jangan putuskan taarrufan kita. Aku sangat mencintaimu adek. Demi Allah, tiada niatku sedikitpun membuatmu kecewa apalagi mempermaikan perasaanmu. Setelah kakal jelaskan tapi masih adek ingin pergi, maka silahkan adek, kakak tidak mau memaksa karena adek sangat berharga.”

Uraian tangis yang menjelma.
Menghangatkan sebuah harapan nyata..
Bergejolak hati terluka
Melihatmu meneteskan air mata
 Tiada niat menyakiti
Pujaan hati untuk ku nodai
Hanya takdir tiada merestui
Rencana insan yang tiada hakiki
Percayalah....
Kedewasaan yang diinginkan mentari
Kejernihan berpikir yang di nanti
Meresapi alasan yang asli
Sehingga kau tak merasa tersakiti
Demi Ilahi
Tiada niat dalam hati
Menyakiti sang bidadari
Tinggal Khalik sebagai tumpuan
Semoga taarrufan kita seauai harapan


Setelah Rina membaca chat Rahman dan ia  memhayatinya. Sehingga sehingga Rina menjatuhkan air mata yang tanpa dia sadari telah membasahi hapenya. Rina gin sekali membalasnya tapi Rina terlanjur sakit hati dan ingin menenangkan diri dan melupakan semuanya.

Semenjak itu, mereka tidak pernah saling memghubungi. Akam tetapi Rahman  selalu gelisah dan tidak tenang. Ia hanya ingin mendengar kata “iya” secara langsung karena sering sekali ia mengecewakan Rina. Padahal  di chat Rina sudah memaafkannya, tetapi Rahman tidak merasa puas karena “perempuan mudah memaafkan tapi sulit melupakan", meskipun kesalahan itu tidak di sengaja.

Dengan kejadian tersebut, Rahman harus menahan rindunya, entah sampai kapan. Dengan keadaan ini, Rahman semakin rindu dan ingin menemui Rina untuk meminta maaf secara langsung. Tapi di sisi lain, Rahman takut menemui Rina karena Rina masih kecewa.

Dengan rindu yang mendalam, Rahman melampiaskan rindunya melalui sebuah puisi. Puisi itu berbunyi:

Pintu itu menjerit
Menyuarakan kerinduan
Menghayutkan bagi pendengar
Rintihan nyanyian selalu terdengar
Air laut selalu bergejolak
Meninggikan ombak penghantam
Menyelamatkan karang nan indah
Berlabuh menghantar di dasar laut
Pintu berdiri di depan pantai
Membuka lebar yang di samping
Menyulingkan suara yang merdu
Berharap air laut akan tenang
Rumput laut terus berdatangan
Membawa pengganti sang pembalut
Iringan deburan terus bersembunyi
Menanti putri menata hati
Rindu tak bisa di jelaskan
Penyesalan terbayang menghantui
Hanya kata maaf yang dinkeluarkan
Untuk kesalahan yang tak di sengaja
Daun-daun berguguran
Menyebabkan hujan beriringan
Panas mentari jadi penyebab
Menumbuhkan daun yang berjatuhan
Jeritan rindu terus menggebu
Menghadap sang pujaan lagi berwudlu
Mengobati hati karena terkikis
Akibat kekecewaan yang tersadis
Maafkan diri ku yang hina ini.


Semakin hari Rahman terus melampiaskan rindunya kepada sang pujaan hatinya Rina dan berharap suatu saat Rina bisa memahaminya.

Suatu hari pertemuan yang tak disengaja, Rahman melihad Rina sedang dibonceng oleh seorang lelaki dn kelihatanya mereka dekat sekali. Hal ini mebuat Rahman tiba-tiba marah dan kecewa. Rahman tidak terima kedekatan Rina dengan lelaki tersebut. Padahal Rina sudah memutuskan hubungan taarrufan sama Rahman tapi karena cinta yang teramat besar ia tidak bisa menerimanya. Ia merasa sangat tidak dihargai dan pada saat itu Rahman langsung membenci Rina. Maka berlaku yang namanya “Cinta berubah menjadi benci”. Rahman berjanji akan menyakiti Rina sebagai  balasannya.

Rahman berencana menyakiti hati Rina dengan cara mendekatinya kembli. “Apa pun caranya, Rina harus dekat dengan ku.” kata Rahman sambil pupil matanya seperti mau meloncat keluar.

Rahman meberanikan diri untuk merayu Rina. Rina pun heran, padahal dulu pas taarrufan Rina tidak pernah melihat Rahman merayunya, bahkan lewat chat pun. Rina pun berpikir ada yang aneh.

Ternyata ini bagian dari rencana Rahman. Tiba tiba Rahman mengajak Rina kembali untuk menjalin hubungan tetapi Rina memolaknya dengan alasan ia sudah melupakan dirinya. Dengan jawaban tersebut, Rahman semakin geram dan semakin bernafsu ingin menyakiti Rina. Rahman pun berkata dalam hatinya, “kamu harus tersakiti Rina, meakipun kamu tidak mau ku ajak bertaarrufan lagi. Tapi setidaknya aku bisa menghubungimu dan perlahan aku akan membuatmu nyaman seperti dulu. Setelah kamu nyaman baru aku menyakitimu  hahahahah, bangsatttt!”.

Setelah di tolak, Rahman lalu mengajak Rina untuk berteman  dan Rina pun mengiyakan karena Rina orangnya baik dan pemaaf. Dengan rasa gak gugup Rina mengatakan, “Saya berharap kita bisa menjadi teman yang saling mempercayai.” Rahman pun tersenyum miring.

Mulai hari itu rencana jahat Rahman sudah dimulai. Rahman berusaha membuat Rina senyaman -nyamanya  dengan cara super perhatian.

Hari demi hari terus berjalan. Rahman tidak lupa dengan tujuanya. Ia selalu menge-chat Rina duluan dengan perhatian yang tinggi. Dan akhirnya Rina pun mulai merasa nyaman. Tapi tetap Rina tidak mau diajak kembali taarufan apalagi pacaran.

Setelah nyaman, Rahman pun mulai menjalankan misinya untuk nmenyakiti hati Rina. Ia yakin  Rina bakal sakit hati meskipun hubungen mereka sudah putus. Ia tetap yakin karena Rina sudah nyaman sama dia dengan modal dusta.

Singkat cerita. Akhirnya Rina pun berhasil tersakiti oleh Rahman. Sampai-sampai Rina pun jatuh sakit dikarenakan  ucapan Rahman sangat menusuk hatinya. Rahman mengatakan bahwa Rina sama dengan binatang.  Semenjak itu sikap dan keadaan Rina menjadi berubah karena ia tidak pernah dikatakan begitu  sama seseorang, termasuk orang tuanya.

Melihat kondisi Rina, Rahman menjadi puas. Tidak berselang lama Rina menemui Rahman dengan di temani genangan air mata:
Rina    : Kenapa Anda tega sekali dengan saya. Apa salah saya (sambil menangis)
Rahman    : Kamu yang membuat ku berlaku besampai seperti ini.
Rina    : Tidak ku sangka. Ternyata cara mu menyakiti perempuan kayak banci!
Rahman    : Biarin! Dasar Binatang.
Rina    : (hanya menatap sambil menangis)
Rahman    : Rina, padahal kamu tahu bahwa perasaan ku terhadap mu sangat besar. Kamu   juga tahu kalau aku tidak menerima taarruf kita diputuskan. Tapi kenapa kamu malah jalan sama cowok lain.
Rina    : Yang mana? Semenjak hubungan kita berahir, tidak ada lelaki yang dekat denganku
Rahman    : Bohong! (sambil meludah). Lalu siapa lelaki tersebut kalau bukan teman dekatmu.
Rina    : Itu adek misan ku, namanya Rusdi (sambil menangis dan terjatuh).

Melihat penjelasan Rina,  Rahman membisu seperti patung dan air matanya menetes sambil menatap Rina yang lagi menangis.

Setelah itu, Rina masih menangis dan Rahman pun hanya terdiam . Ia  terjatuh dalam penyesalan. Seketika ia berteriak dengan suara yang sekeras-keranya sambil memukuli dirinya sendiri. Ia baru sadar kalau ia ternyata salah faham dengan Rina dan Rina hanya menjadi korban dari api cemburu.

Rahman malu meminta maaf untuk sekian kalinya. Karena sering sekali ia mengecewakan Rina. Hingga kini Rahman bingung harus berbuat apa. Ia hanya bisa menyesal dan meneteskan air mata. Ia pun putus asa. Teman Rahman pun heran dengan sikapnya yang kadang kadang berteriak tanpa sebab. Teman Rahman pun mengetahui kalau ia sedang galau karena menyakiti hati orang yang ia sayangi.

Teman Rahman yang namanya Muzak tiba tiba mengajak Rahman untuk meminum miras. Kata muzak, “Brow, hanya mabok obatnya kalau masalah cinta”. Karena Rahman  bingung harus berbuat apa maka ia hanya mengiyakan asalkan hatinya Tenang.  Rahman dan temanya pun berangkat untuk.membeli miras. Setelah sampai, ketika hendak minum, Rahman menge-chat Rina, “Aku tahu kamu tidak akan memaafkan ku lagi, meskipun aku meminta maaf. Sekarang aku lagi bersama muzak dan kami mau minum miras untuk melupakan masalah ini.”

Awalnya Rina tidak mau membalas karena msih kecewa. Tetapi setelah Rina membaca kata miras, ia langsung membalasnya dengan ucapan: “Ku mohon Kak, jangannlakukan itu. Tolong jangan Kak. Jika Kakak mencintaiku tolong jangan Kakak meminum miras Kak. Aku mohon. Aku sudah memaafkanmu kakak tapi tolong jangan lakukan ini Kak.”

Melihat balasan Rina, Rahman langsung menanyakan kenapa ia masih peduli, dan Rina pun menjawabnya, “Karena saya merasa bersalah Kak. Kakak ingin meminum khomar  cuman karena  saya. Aku tidak mau itu, dan aku sudah memaafkan Kak. Jika Kakak sampai meminum miras, haram hukumnya saya kenal lagi sama Kakak.”

Mendengar jawaban Rina, Rahman langsung membuang miras yang di depanya dan langsung sujud syukur sebagai bentuk terima kasihnya pada Rab-nya. Ia sungguh tidak menyangka Rina begitu pemaaf meskipun ia sering terluka. Rahman lalu mengirim pesan yang bunyinya,”Ternyata sifat pemaafmu yang tidak bisa membuatku melupakanmu.”

Semenjak itu Rahman berjanji untuk setia menanti dan menunggu Rina, tapi Rina sendiri tidak mau di tunggu karena takut tidak jodoh. Rahman pun menanggapinya, “Aku akan berhenti menunggu mu, jika sudah ada orang yang benar-benar aku percayai untuk.menjaga mu, Rina aku akan menjagamu".

Mendengar itu, Rina hanya tersenyum sambil.membalas, “Cari yang lain Kak, Aku siap jadi tempatmu curhat.” Tapi Rahman tidak mau, dan ia menunggu sampai sekarang. Hanya saja sampai sekarang, Rina merespon isi hati Rahman. Sampai srkarang.

Kalau bukan karena kesabaranmu
Kalau bukan berkat pemaafmu
Kalau bukan karena kelembutan hatimu
Mungkin aku sudah melupakanmu
Izinkan Aku menunggumu, Jumatul Listarina
Hatiku sungguh kagum, mustahil aku  melupakan mu


Itulah kata kata yang keluar dari lisan Rahman sambil menangis. Dan sampai sekarang mereka kembali saling menghubungi tapi tanpa status.

Artikel Terkait

Fadly R. Siddiq 7216232484055503945

Post a Comment

emo-but-icon

Cara Membuat Kue

Kabar Terbaru

item