Sebuah Cerpen | Sumur Lama dan Sumur Baru Karya Abduh Sempana


Oleh: Abduh Sempana

Angin berhembus dengan lirih. Saat adzan  mulai berkumandang. Udara dingin menyusup ke dalam tubuh. Aroma kemenyan menyibak waktu sandikala. Senja perlahan disetubuhi malam.

“Cuma sebagai syarat, Pak Mat” kata lelaki tua sambil meniupkan nafasnya ke arah daun sirih yang dipelintir. “Ini merupakan peninggalan leluhur,” sambungnya.

Pak Amat semakin tidak mengerti mengerti dengan ritual semacam itu. Ia cuma bisa mengangguk , sambil menuruti apa yang diperintahkannya.

“Tolong ambilkan tali bekas jahitan semen itu,” kata lelaki tua penggali sumur itu.

Tali itu ternyata dipakainya untuk mengikat pelintiran daun sirih tadi. Juga tembakau yang sengaja dibuat seperti rokok.

“Semoga air sumurnya besar di sini,” katannya sembari memakan daun sirih yang dicampur dengan buah pinang. Terlihat mulutnya komat kamit membaca mantra. Atau entah apa yang dibacanya. Sementara Amat hanya bisa diam sambil mengucek matanya. Rupanya asap yang bercampur bau kemenyan mulai menyebar.

Sudah lama Pak Amat merindukan akan membuat sumur yang besar airnya. Sementara sumur yang ia miliki selama ini sangat dalam. Hampir 20 meter kedalamnya. Sehingga Pak Amat harus bersusah payah untuk mendapatkan air. Apalagi saat musim kering. Airnya sudah seperti air ludah.

Tidak jarang terjadi pertengkaran kalau saat musim kering. Itu semua gara-gara air sumur. Saat subuh berebut wudlu, mandi, hingga mencuci. Saat sore pun demikian. Selalu ada di antara keluarga Pak Amat yang tidak dapat mandi. Bahkan wudlu pun. Maka mereka harus mencari air ke rumah tetangga. Sumur di rumah tetangga juga sudah tidak ada airnya.

Pernah suatu hari terjadi perkelahilan yang sangat sengit. Akibat air sumur yang mengering. Semuanya jadi kering. Suhu tubuh meningkat. Orang-orang seperti cepat naik darah.

“Aku duluan mandi, aku tidak pernah mandi dari pagi,”

“Aku baru pulang dari sawah, belum mandi juga,”

“Tapi aku kan yang duluan ke sini,”

“Aku yang duluan sampai sini,”

“Aku...”

“Aku...”

“Aku...”

“Aku ...”

“Woooooooooi...... Teriak Pak Amat dari dalam rumah. Coba mengalah salah satu. Jangan ribut saat mangrib begini, malau sama tetangga.”

“Diam kamu,”

“Anji.. kamu,”

“Kamu bab...,”

 “Mony....”

Entah apalagi nama-nama binatang yang bisa disebut. Mungkin semut saja tidak pernah disebut. Sementara warga sudah terlihat berkumpul di luar pagar rumah. Mereka menjulur-julurkan kepalanya seperti ular. Lidah mereka juga sudah mulai menjilat-jilat pagar rumah.

“Itu sih, Si anak gak tau diri. Maunya menang sendiri.”

“Iya, dia itu orangnya keras , tidak mau mengalah”

“Si Anak tak tau menurut, seharunya dia yang mengalah,”

“Si ibu orang tua juga seharusnya mengalah,”

Sementara dari arah utara, orang-orang berpakain putih-putih. Dari atas sampai kaki semuanya putih. Mereka seperti kupu-kupu putih. Terbang di atas awan.

“Ini pasti gara-gara sumur. Mandi di rumahku aja, di sana airnya besar. Teriak salah seorang dari mereka. “Kasian sekali mereka, harus bertengkar setiap hari gara-gara air sumur.”

Sejak kejadian itu, Pak Amat mulai berpikir, bagaimana caranya bisa bikin sumur. Sumur keluarga sudah tidak bisa menampung. Jumlah keluarga di rumah itu lebih dari satu lusin. Ada yang menangis dan tertawa saat membutuhkan air. Kadang anak-anak juga tidak dapat mencuci pakaian sekolahnya. Terpaksa ia memakai seragam yang sudah dipakainya satu minggu. Baunya sudah tidak bisa ditoleransi lagi.

“Nanti kita bikin sumur, Nak, semoga sumur kita nanti memiliki mata air yang besar. Sehingga kita bisa mandi dan mencuci sepuasnya. Sudah lah jangan menangis.

Pagi harinya Pak Amat bersiap-siap untuk menggali sumur. Tukang gali sumur sudah lebih dulu di sana. mereka berdua sudah mempersiapkan untuk membuat bundaran sumur. Di situ terdapat abu bekas dibangarin semalam.

Setelah dua hari  lamanya menggali sumur, air pun muncrat pada siang hari kedua.

“Ini rupanya mimpi saya semalam.”

“Apa mimpinya, Pak,”

“Saya bermimpi memencet p*y*d*r* gadis,”

“Hah, hahahaha...” Amat tertawa terbahak.

Hingga sore hari mereka tak mampu menguras air sumur itu. Mata airnya dari arah selatan. Saat mau digali, airnya pecah lagi dari bawah. Saat dicoba menutup mata airnya, pecah lagi dari arah lain. Hingga penggali pun mengalah dan tak mampu lagi menimba airnya. Esok hari, air sumur itu meluber dan menggenang di halaman rumah.

--------------------------
Keterangan: *dibangarin (Lombok) ritual adat sejenis sesajen atau yang lainnya.

Artikel Terkait

Cerpen 4259836867645990720

Post a Comment

emo-but-icon

Cara Membuat Kue

Kabar Terbaru

item