Jilbab Panjang Khanza

Jilbab Panjang Khanza | Cerpen: Abduh Sempana


Pertama kali aku mengenal wanita lebih dekat saat sudah di bangku kuliah semester enam. Katakan saja berpacaran. Meski sebetulnya aku juga belum tau pasti, apakah ini namanya pacaran, temenan, atau apa. Saking bodohnya aku ini, eh.

Padahal sebagian teman-temanku sudah terbiasa pacaran semenjak mereka SMA. Bahkan ada yang saat masih SMP. Sehingga terkadang banyak yang mengejekku, dikatakannya aku ini jomblo sejati lah, bencong lah, dan segala macam. Tapi aku tetap pada pendirianku, sekolah lebih penting.

Dan setelah lebih dekat dengan wanita, ternyata wanita itu wangi, bersih, rapi, modis, dan banyak hal tentang sifat-sifat feminim lainnya. Aku pun semakin suka dengan wanita. Wanita memang benar-benar indah. Aku pun semakin penasaran dengan wanita.

Dan  suatu ketika kulihat sekelompok wanita sedang berjalan. Di antara deretan tiga wanita itu, tatapanku getol ke salah satu wajah cantik nan ceria. Senyumnya menawan. Berhijab. Menenteng tas mungil. Kutatap dari ujung kaki hingga ujung rambut (jilbab). Sempurna. Betapa aku terpana.

Lanjut hari berikutnya. Aku kembali melihatnya bersama ketiga temannya itu. Rupanya mereka teman akrab. Aku mencoba menyapanya. Padahal aku belum pernah menyapa seorang gadis. Tapi kali ini, nyaliku begitu besar. Aku juga tidak tau tiba-tiba saja persaanku berkobar. Seperi api yang menyala-nyala.

“Hai, mahasiswa baru, ya!” Sapaku.

“Emang, kita mahasiswa baru. Ada apa ya!” Kata salah seorang dari mereka.

Ops. Aku seperti salah sasaran. Wanita di sebelah kiri duluan menyahut. Bukannya si imut itu. Aku jadi tidak mud. Tapi dalam batinku berkata, mungkin ini tantangannya.

“Maaf, ya. Aku cuma pingin tau aja. Boleh kenalan gak, sih!” ucapkan sambil menyodorkan telapak tanganku yang kasar karena sering kuli bangunan.

Gadis di tengah pun melirikku. Senyumnya terlihat mengembang. Tanpa ragu ia menyambut tanganku. Meskipun tangannya dilapis dengan ujung jilbabnya, tapi aku sangat terharu sekaligus bahagia. Sungguh, baru kali ini aku disambut oleh wanita yang begitu tulus. Hal tersebut telihat dari sentuhan senyumnya. Aku benar-benar bisa merasakan ketulusan itu.

“Namaku Aretha Khanza Zayna,” katanya, “Panggil aja Khanza,”
Aku sempat terbengong sesaat. Berusaha mengahafal nama itu. Lalu kemudian gantian menyebutkan namaku. “Muzakkir” kataku.

Singkat cerita, semenjak perkenalanku itu, aku pun sering ketemu dengan gadis itu. Aku sering memberinya meminjam buku-buku. Ia suka membaca novel-novel islami. Sehingga terkadang aku bersedia membeli novel-novel islami terbaru supaya ada yang kupinjamkan padanya.

Dua bulan kemudian. Aku pun ingin serius menjalin hubungan dengannya. Tidak sebatas pertemanan. Tapi aku ingin suatu ikatan yang lebih kuat yang biasa disebut “Pacaran”. Bahkan aku juga mau ia menjadi pendamping hidupnya untuk selamanya. Lalu pada suatu senja yang indah. Di atas rumput taman Fakultas Seni Budaya, kami duduk-duduk berdua. Sembari membolak-balikkan buku-buku, aku memulai lebih dulu membuka percakapan.

“Khanza, maaf sebelumnya, sebetulnya ada yang ingin kukatakan padamu,”

“Ngomong aja,” Sambutnya lugas.

“Aku, ingin hubungan kita yang lebih khusus,”

“Khusus..., memangnya selama ini umum? Bukankah kita sudah lebih dari khusus,”

“Menurut aku masih umum, makanya aku mau yang lebih khususnya lagi.” ungkapku seperti sudah mau kehabisan kata-kata.

“Dari umum ke khusus, gitu. Paragraf deduksi.” Katanya dengan sedikit canda sehingga membuatku hampir tertawa. Kulihat ia juga tersenyum manis. Manis sekali.

Aku berpikir sejenak, mungkin saat ini bukan waktu yang tepat. Tapi kurasa tidak. Ini adalah waktu yang paling baik. Aku harus ungkapkan sekarang. Bagaimana pun juga aku harus kuungkapkan.

“Khanza, aku serius nih.”

“Memangnya kamu lihat aku nggak serius ini, tu, tu, tu....” katanya sambil membesarkan pupil matanya yang seperti rembulan purnama itu.

“Maksud aku, aku suka sama kamu.”

“Maksud kamu?” katanya.

“Aku cinta kamu, I Love you”

“Maksud kamu pacaran ya...., maaf Kir, aku belum siap untuk pacaran. Lagi pula agama kita melarang untuk pacaran. Aku mohon kamu mengerti.”

Sampai di situ, aku tidak bisa mengutarakan kata-kata lagi. Seperti pistol yang kehabisan amunisi. Aku tidak bisa bangkit lagi. Seluruh urat sarafku menjadi kendor. Bahkan untuk bernafas pun agak sedikit sesak.

Semenjak aku mengutarakan kata-kata itu, entah mengapa aku rada-rada malu mendekati gadis itu. Aku jadi tidak enak. Bahkan untuk menyapanya pun hati ini menjadi berat. “Oh, Tuhan mengapa aku seperti ini. Aku pengecut. Seharusnya aku tetap mendekatinya. Dia adalah wanita yang baik. Meskipun tanpa pacaran, seharusnya aku selalu menyapanya. Dan selalu ada di sisinya.”

Dasar aku ini bodoh sekali. Baru ditolak sekali saja sudah lemah tak berdaya. Kayak krupuk tersiram air aja.

Kemudian di suatu hari kulihat gadis itu sendiri saja. Dia seperti tidak semangat. Bahkan dua hari ini aku selalu melihatnya merenung. Apa sebenarnya yang ada dalam pikirannya. Apakah dia memikirkanku. Apakah dia masih mengingatku. Ah, kurasa benar. Dia pasti mengingatku. Aku harus menghampirinya.

“Khanza,” Sapaku.

Kulihat senyum tulus itu kembali mengembang. Bagaikan bunga yang baru tersiram hujan. Wajah cantiknya terlihat cerah. Betapa aku merasakan kesejukan tatkala menatap wajahnya. Rinduku benar-benar terobati.

“Muzakkir,” katanya lembut.

“Mengapa sendiri di sini,” kataku.

“Aku, aku tidak apa apa. Cuma pingin sendiri aja.” Sambutnya.

“Boleh aku temenin?”

“Boleh kok, Oh, ya, kabar kamu bagaimana?”

“Aku baik saja, cuma masih memikirkan tentang paragraf deduktif itu.”

“iiih lebay kamu, Kir. Sudahlah, santai aja kali. Buat kamu bukan paragraf deduktif lagi, tapi paragraf campuran.”

“Maksud kamu?”

Desau angin mengibas jilbab gadis itu. kulihat wajahnya berbinar. Bersih. Tak ada setitik noda pada pipinya. Tersirat cahaya seorang wanita yang tak pernah meninggalkan air wudlu.  Aku serasa tenggelam. Dan aku benar-benar tenggelam di dalam bening tatapan matanya.