Menolong Orang yang Tak Mau Ditolong

Menolong Orang yang Tak Mau Ditolong
Cerpen: Abduh Sempana


Sesorang tergeletak di trotoar. Tubuhnya kotor bersimbah lumpur got. Kulihat matanya terkatup. Wajahnya nyaris tidak kelihatan oleh kotoran. Lantas kugerakkan tubuhnya. Tapi ia tidak berkutik sedikit pun. Aku hanya berharap ia segera siuman. Cukup lama aku menunggu keadaan yang lebih baik. Hingga aku kehilangan akal untuk menolong orang itu. Jadi, “Aku harus bagaimana?” tanyaku membatin.

Aku pun mulai bimbang, jangan-jangan  orang tersebut sudah mati. Aku mulai takut. Perasaanku tidak nyaman. Aku mulai ingin meninggalkan tubuh tergeletak itu. Tapi,  dalam hati kecilku mengatakan, “Bukankah ini kesempatanku untuk berbuat baik,” karena selama ini aku telah banyak ditolong oleh orang, maka aku juga harus bisa menolong. Terlalu picik pikiranku bila saja aku tinggalkan orang itu dengan sia-sia.

Aku mulai menatap wajahnya lebih dekat. Kuperhatikan seluruh tubuhnya dari ujung  kaki hingga ujung rambut. Kulihat tangannya putih diterpa sinar lampu jalan. Berbagai pertanyaan  mulai muncul di benakku. “Mungkin orang ini perempuan.” Aku bertambah penasaran. Aku mulai lebih dekat. Kuperhatikan lagi dia. Kuperhatikan rambutnya. Ya, panjang. Kuperhatikan bajunya. Ya, sudah semakin jelas, sepertinya dia menggunakan gaun perempuan. Untuk lebih meyakinkan lalu kupegang saja tangannya. Terasa lembut. Lalu yang membuatku lebih yakin lagi, terdapat benjolan di dadanya.
Rasa kasihanku yang begitu dalam mulai timbul. “Ya, aku harus menolong orang ini.” bukan berarti karena dia perempuan. Siapa pun dan apa pun dia akan aku tolong. Meski anjing sekali pun. Ini masih mending manusia. Ya, dia manusia seperti aku.

Ah, aku telalu banyak berpikir. Seharusnya aku bertindak cepat. Tapi mampukah aku menggotong orang ini? Ya, kucoba saja. Kucoba. Nanti aku menyesal kalau tidak mencoba.

Kuangkat saja dia. Tubuhya sangat lemas. Masih ada sisa wangi farfum di  tubuhnya. Bercampur dengan bau alkohol. Ah, kurasa dia baru saja selesai mabuk. Akhirnya aku bisa mengangkat tubuhnya ke atas sepeda motor.  Lantas dia bergerak. Aku jadi kaget. Kok malah aku yang kaget, bukan dia.  Lalu dia membuka matanya. Tanganku masih memegang tubuhnya di atas motor. Aku masih memikirkan bagaimana caranya untuk membawa orang itu. Aku takut dia jatuh. Tapi untung dia bangun. Dia bisa memegang tubuhku. Aku tidak apa-apa meskipun dia kotor.

“Siapa kamu,” katanya dengan perkataan yang serak-serak tapi cukup tegas.

“Kamu, tenang saja. Jangan khawatir. Aku sedang menolong kamu.”

“Menolong?” katanya seperti tidak yakin.

“Ya, menolong.”

“Masih ada laki-laki yang suka menolong?”

“Ya , aku.”

“Jangan bercanda kamu, jangan macam-macam sama aku.”

“Sekali lagi tenang, tenangkan hatimu. Kamu sudah meminum alkohol kan?”

“Hah, mana, mana, masak tampang seperti ini minum alkohol.”

“Ya, sudah, untunglah kalau kamu tidak minum.”

“Turunkan aku dari motor kamu.”

“Aku mau menolongmu.”

“Sekali lagi kukatakan jangan membodohi aku.”

“Kamu tidak percaya?”

“Aku tidak percaya sama laki-laki, bukan sama kamu.”

La, orang ini kok malah ngawur kayak gini.  Ada apa gerangan. Aku bertambah bingung. Tanganku makin pegal juga menyangga tubuhnya. Tapi, apakah aku harus menurunkannya? Orang-orang zaman sekarang memang aneh.

“Masih belum mau menurukanku?”

“Turun aja sendiri.”

Perempuan itu lompat begitu saja. tapi tiba-tiba dia ambruk. dia terkapar di atas tanah. Lalu aku cepat-cepat mau menolongnya lagi.

“Jangan pegang-pegang tubuhku.”

“Hai, aku sedang menolongmu.”

“Sekali lagi aku tidak membutuhkan pertolonganmu.”

Meskipun dia mengatakan seperti itu, aku tidak mau beranjak dari tempat itu. aku harus menolong orang itu. Aku takut dia kenapa-napa. Karena tempat itu sangat tidak ideal buat seorang perempuan seperti dia. Lebih-lebih kelihatannya dia cantik. Gurat-gurat wajahnya bisa aku kenali dari sorot kendaraan yang berseliweran.

“Kenapa masih tetap berdiri di situ, kamu pergi saja.”

“Kamu tidak bisa melarang aku begitu saja. Aku punya hak juga.”

“Hak apa”

“Hak menolong,”

“Cari hak kamu yang lain,  bukan kepadaku,”

“Kamu tinggal di mana,?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Penting?”

“Sangat penting.”

“Tapi, bagiku tidak penting memberitahu kamu.”

“Sudahlah jangan terlalu banyak becanda. Ayo naik. Kemana aku harus membawamu. Ke rumah, ke kos, ke rumah apartemen? Ayo, segera naik ke atas motorku.”

“Pergiiii.”

Perempuan itu beteriak. Tapi aku tetap diam di situ.

Malam terus larut. Dia dan aku tidak berbicara lagi.  Angin malam terus berhembus. Kini rasa dingin mulai merasuki tubuhku. Kulihat perempuan itu terdiam seribu bahasa. Kudekati dia. Ternyata dia tertidur. Kelihatannya dia sangat lelah. Aku sangat kasihan melihatnya.

30-4-2016

Artikel Terkait

Cerpen 3021229347513747644

Kabar Terbaru

item