Pengertian Iman Menurut Bahasa dan Istilah

Pengertian Iman

Iman menurut bahasa pembenaran hati, sedangkan menurut istilah adalah mengikrarkan dengan lisan, meyakini dengan hati dan mengamalkan dengan angota badan. Imam Syafi’i meriwyatkan ijma’ para sahabat, tabi’in, tabi’in dan orang-orang sesudah mereka yang sezaman dengan beliau atas pengertian tersebut.

Menurut Al Qardhawi dalam kitab Al-Iman Wal-Hayah mengatakan bahwa iman itu bukan semata mata pernyataan seseorang dengan lidahnya, bahwa dia orang beriman, banyak orang-orang yang mengaku beriman, mengajak-ajak kebaikan namun hati mereka seolah-olah menolak apa yang mereka ucapkan, merka belum beriman, bahkan hati mereka kosong dari kebaikan dan keikhlasan kepada Allah SWT.

Allah SWT, berfirman yang artinya;
“Dan diantara mereka ada yang mengatakan; ‘kami beriman kepada Allah dan hari akhir’, padahal mereka sesungguhnya bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka menipu diri mereka sendiri”[Q.S: Al-Baqarah: 8-9].

D iayat yang lain Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, dan Allah menbalas tipu daya mereka. Apabila mereka berdiri mengerjakan solat mereka berdiri dengan malas, mereka ria’[mengambil muka] dihadapan manusia dan mereka itu tidak mengingat Allah, melainkan sedikit sekali. [QS: an Nisa’ 142].

Bukankah banyak sekali kita temukan dilingkungan kita orang-orang yang solat semacam ini. Misalnya mereka solat di hadapan manusia atau ketika menjadi imam, suaranya di faseh-fasehkan dan lagaknya atau caranya di indah-indahkan sedemikian rupa, akan tetapi kalu dia solat sendirian, berdo’a sendirian, pelagaknya, suaranya, jauh berbeda dibandinkan ketika dihadapan manusia atu jamaah. Na’uzubillah.

Rasulullah SAW bersabda:
Tidak akan pernah masok sorga orang yang ada didalam hatinya ada sifat ria’ wlapun sebesar biji zarah [atom].[HR. Muslim].

Oleh karena itu bagi seorang mukmin sejati, iman itu tidak pula hanya sekedar mengetahui ilmu apa saja berkaitan dengan keimanan, sebab sangat bayak orang yang mendapatkan ilmu dari para  pemberi peringatan atau penceramah dengan berbagai macam dalil namun dalam kehidupan mereka perbuatannya seakan-akan membantah apa yang mereka ketahui atau ucapkan. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka tidak akan pernah beruntung dan mereka tidak akan  pernah mendapatkan  petunjuk dari  Allah SWT.

Allah SWT berfirman:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya mereka sesat dalam keadaan mengetahui [berilmu]. [QS. Al-Jasiyah: 23].

Di ayat yang lain Allah SWT. Berfirman:
Dan dia memperturutkan hawa nafsunya, mereka seperti ibarat anjing, jika kamu menghalanginya, maka ia menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya, iapun tetap akan menjulurkan lidahnya. [QS. Al-A’raf: 172].

Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman; mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. Sungguh sangat dibenci di sisi Allah SWT apabila kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (buktikan).” [QS. AS-Saff: 2-3].
Sementara itu Imam Akhmad bin Muhammad Al-Jariri, mengatakan bahwa; Barang siapa yang keagamaanya belum berdiri di atas ilmu tauhid dengan satu kesaksian [ hanya Allah semata] dari berbagai kesaksian, maka akan tampaklah kaki-kaki penipu pasti akan mengelincirkannya kelembah nafsu kerusakan.

Allah SWT berfirman:
“Sesunguhnya orang-orang yang beriman hanya kepada Allah dan Rasulnya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka bersungguh-sungguh dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” [QS. Al-Hujarat: 1-5].

Hakekat iman itu ialah kerja jiwa. Mekanisme kerjanya ialah:
  1. Keimanan itu menyinari akal, lalu membuat akal itu cerah.
  2. Keimanan itu masuk kedalam hati, lalu menggetarkannya dan menggerakannya.
  3. Keimanan itu masuk kepada kehendak dan kemauan lalu mendorong dan memper jelas tujuannya.
  4. Kalau akal telah tercerahkan, hati telah tergerak, kemauan dan kehendak telah jelas tujuannya.
Maka anggota tubuh lainnya akan menanggapi terdorong dan termotivasi untuk beramal. Karena nafsu, akal, pikiran, usaha dan doanya akan selalu bergerak aktif untuk berusaha menanggapi/ memahami  kebenaran yang hakiki yang datangnya dari Allah SWT. Tanpa keraguan sedikitpun.

Semoga kita termasuk golongan hamba-hamba Allah yang beriman kepada-Nya dengan sungguh-sungguh tampa keraguan sedikitpun dengan harta, jiwa dan raga kita smpai ruh ini berpisah dari badan kita. amin.

LihatTutupKomentar