Tetesan Keringat Menuju Pawai Kemerdekaan | Sebuah Cerpen Karya Siswa

Tetesan Keringat Menuju Pawai Kemerdekaan

Tetesan Keringat Menuju Pawai Kemerdekaan
Karya : Rindiani Rossalinda (25)

Pagi hari di hari Senin tanggal 15 Agustus 2016, jam 05.45 WITA aku terbangun dari tidurku yang lelap. Aku berjalan dan berjalan menuju kamar mandi dengan mata yang terbuka dan tertutup. Aku mengambil air wudhu dan sholat menyembah Allah SWT., setelah itu, aku ambil handuk dan mulai mandi tepatnya jam 06.00 WITA. Dalam benakku, aku ingin berjalan menuju ke sekolah jam 06.20 WITA supaya aku tidak terlambat. Tetapi, setelah aku menyadari bahwa sudah berapa menit kira-kira aku di kamar mandi.

Setelah keluar dari kamar mandi, aku kaget dan berlari melihat jam dinding. Ternyata, jam sudah menunjukkan 06.20 WITA, tepat sekali waktu yang aku inginkan untuk berangkat. Dengan segera aku memakai pakaianku, dan sarapan bersama orang tuaku. Tak lupa pula, karena aku merupakan anak kos, jadi aku harus membawa lauk-pauk bersamaan dengan baju-bajuku di hari lain nanti. Aku sangat tergesa-gesa karena jam sudah menunjukkan 06.30 WITA, akan tetapi ibuku memperingatkan bahwa aku harus berhati-hati di jalan.

“Ibu, Bapak, aku berangkat dulu ya,” tegurku kepada Ibu dan Bapakku.

“Iya, hati-hati Nak,” sahut Bapakku.

“Assalamualaikum Wr. Wb.,” kataku.

“Waalaikumussalam Wr. Wb.,” sahut Bapakku.

Lalu aku berangkat, dengan cepat aku menyalakan motorku dan keluar dari gerbang rumahku. Jarak antara rumahku menuju ke sekolah kurang lebih 25 km, sehingga aku dengan cepat menambah kecepatan motorku dari 60 km/jam hingga mencapai 80 km/jam. Biasanya, waktu dari rumahku menuju ke sekolah sekitar 30 menit  dan di sekolah sudah di tertibkan bahwa siswa maupun siswi harus ada di dalam sekolah jam 07.15 WITA, sehingga aku begitu tegang diperjalanan sampai-sampai aku hampir manabrak orang, tapi untungnya aku dengan cepat mengerem motorku.

Setelah hampir dekat menuju ke sekolah, aku pergi ke kos terlebih dahulu untuk meletakkan lauk-paukku beserta barang-barangku. Di kos, sudah tidak ada orang atau teman-teman ku, dan membuatku semakin takut. Aku merasa bahwa aku sudah telat. Akan tetapi, aku terus berjalan menuju ke sekolahku, yakni SMAN 1 SELONG. Setibaku disana, untunglah gerbang sekolah belum ditutup dan aku segera menambah kecepatan motorku masuk ke dalam sekolah.

“Teeeeeeeeet…….” Bel pun berbunyi, pertanda bahwa semua siswa siswi harus masuk kelas. Aku langsung melepas helm, dan mengambil kunci motorku dan menuju ke kelasku tercinta, yakni XI MIA 1 atau biasa juga disebut dengan NITRONE. Sesampaiku di kelas, aku sangat lega sekali bahwa aku datang tepat sekali jam 07.15 WITA.

Akan tetapi, aku bingung tidak ada satupun temanku berada di dalam kelas. Aku lupa, bahwa hari ini adalah hari senin, jadi semua orang sudah berkumpul di lapangan untuk upacara bendera. Aku langsung berlari menuju lapangan dan tenyata teman-temanku kembali lagi ke kelas. Aku bingung sekali kenapa semua orang balik ke kelas, dan untungnya aku bertemu dengan Rahma teman sebangkuku.

“Rahma, kenapa kamu dan teman-teman kembali ke kelas?” tanyaku kepada Rahma.

“Oh, itu. Kata Pak Guru besok kan hari Rabu tanggal 17 Agustus 2016, kita ada upacara bendera kemerdekaan. Jadi, tidak perlu ada upacara sekarang, besok tinggal hari rabu aja kita upacara,” jawab Rahma.

“Ooh, begitu,” kataku.

Setelah itu, aku dan teman-teman menuju ke kelas bersama. Hari ini, aku memiliki 3 mata pelajaran yaitu Matematika C, Fisika, dan Pendidikan Agama Islam. Setiba dikelas, kami berdoa dan belajar. Di tengah pelajaran Fisika, Ibu Sari dan Ibu Dewi datang ke kelas kami dengan membawa satu kertas. Dan mereka pun mengumumkan sesuatu.

“Anak-anakku yang bahagia, karena besok hari rabu kita akan menyambut kemerdekaan kita yang ke-71. Kita semua akan mengadakan pawai besok dan setiap kelas mendapatkan tema yang berbeda-beda. Dan kelas kalian mendapatkan tema kesehatan,” kata Ibu Sari.

“Yeeeyeee….” sorak teman-temanku.

“Ibu Guru, kira-kira jam berapa kita akan datang besok dan dimana kita berkumpul?” kata salah satu temanku.

“Kalian akan berkumpul di Ptc atau di terminal jam 01.00 WITA. Ingat yang tidak datang denda Rp 50.000 per orang. Dan setiap kelas harus membuat 2 buah baju daur ulang, oke?” tegas Ibu Dewi.
“Iya, Bu guru,” sahut kami sekelas.

Setelah itu, Ibu Sari dan Ibu Dewi keluar dari kelas. Setelah melewati beberapa pelajaran, akhirnya pelajaran pun berakhir dengan jam menunjukkan 14.00 WITA dan bel pun berbunyi pertanda bahwa kami sudah pulang. Akan tetapi, karena ketua kelas ada pengumuman jadi kami duduk sebentar dan mendengar pengumuman tesebut.

“Teman-teman, awalnya saya minta maaf karena telah menunda pulang kalian. Akan tetapi, karena ini penting demi kelas kita untuk menjadi yang terbaik nanti jam 3 sore, kita berkumpul di rumahnya Mala yaitu di kelayu untuk membuat 2 buah baju daur ulang yang dikatakan oleh ibu guru tadi dan bawa beberapa bahan bekas seperti koran, botol bekas,dan lain-lain,” kata ketua kelas dengan tegas.

“Oke, insyaallah kami akan datang,” sahut kami sekelas.

“Oke, silakan pulang dan hati-hati dijalan,” tambahnya.

“Iya,” tambah kami lagi sekelas.

Aku pun pulang dengan cepat menyalakan motorku. Sesampai di kos, aku langsung masuk dan makan siang. Setelah itu, sambil menunggu jam 3 sore. Aku membaca buku tentang pelajaran yang tadi pagi. Setelah beberapa menit kemudian, jam sudah menunjukkan 3 sore dan aku pun langsung pergi ke rumah Mala. Setibaku disana, banyak sekali teman-temanku yang sudah sampai di rumah Mala. Akan tetapi, mereka tidak langsung bekerja.

“Hai, teman-teman, kenapa kalian tidak langsung membuat baju?” tanyaku kepada semua temanku yang ada  di sana.

“Soalnya korannya cuma sedikit, jadi mana bisa kita membuat baju,“ balas Lina.

“O, iya. Aku lupa bawa koran, teman-teman maaf ya dan di kosku memang tidak ada koran,” jawabku dengan takut.

“Tidak apa-apa, banyak kok yang tidak bawa barang bekas juga,” balas Lina lagi.

“Terus kita mau ngapain sekarang?” tanyaku lagi.

“O, iya. Coba ku cariin di rumahku. Mungkin masih ada. Siapa yang mau ikut denganku pergi ngambil?” tanya Yuni.

“Aku dah,” jawab Ana.

“Ayo dah, kita masuk teman-teman, kita buat apa yang ada dulu,” kataku.

Setelah mereka pergi, kami langsung masuk. Dan akupun menemukan setumpukan koran di dekat tembok Rumah Mala.

“Teman-teman, ini kan banyak sekali koran. Kenapa kalian mencari lagi?” tanyaku.

“Wah, banyak sekali. Ayo donk kita buat,” sahut Ariel.

Setelah beberapa menit, kami mulai mendesain gambar dan mulai untuk membuatnya. Di tengah-tengah kesibukan kami dalam bekerja, suara yang begitu merdu datang menghampiri kami yakni azan. Azan telah berkumandang pertanda bahwa sudah waktunya shalat ashar. Dan kami langsung pergi mengambil air wudhu dan shalat, karena mukenahnya cuma beberapa yang ada, jadi kami bergiliran. Setelah semua orang shalat kami langsung bekerja lagi.

“Ini ada beberapa pisang goreng yang bisa ibu kasih untuk kalian makan,” kata Ibu Mala.

“Terimakasih, Bu,” kata kami serentak.

Setelah itu, kami langsung bekerja. Setelah beberapa jam, akhirnya 2 baju daur ulang sudah terselesaikan oleh kami.

“Teman-teman, kira-kira ada tidak kalian mempunyai 2 buah jas dokter. Kalau ada, boleh tidak aku pinjam?” kataku.

“Aku punya, besok ku bawain ya,” jawab Ariel.

“Terimakasih Ariel,” tukasku cepat.

***
Besoknya, pagi hari di sekolah aku langsung mencari Ariel dan mengajaknya ke kamar mandi untuk mencoba baju atau jas dokter yang ia bawa. Dan setelah ku pakai ternyata aku  pas sekali memakainya. Kemudian, kami langsung pergi ke kelas untuk belajar. Akan tetapi, kami telat karena orang sudah mulai mengaji jadi kami pun ikut mengaji. Setelah selesai mengaji, menurut prediksi kami semua sekelas bahwa hari ini mungkin kita tidak akan belajar dan pulang pagi. Dan ternyata prediksi kami benar, tidak ada guru yang datang dan diumumkan bahwa hari ini belajarnya di rumah. Aku dan teman-temanku sangat senang sekali.

“O,iya teman-teman. Kita kesana pakai apa?” tanyaku.

“Pakai motorlah,” jawab salah seorang temanku.

“Iya, tapi kan disana tidak ada tempat kita menaruh motor?” tanyaku lagi.

“Gimana kalau kalian ke rumahku dan nanti bapakku yang kan mengantar kita ke terminal?” tanya Soli.

“Oke deh,” jawab semua temanku serentak.

Dan Winda tiba-tiba datang kepadaku.

“Gimana kalau aku nitip motorku di kosmu dan nati kita bisa naik bemo samaan, bolehkan?” tanya Winda kepadaku.

“Boleh, nanti jam 12.30 WITA ya,” jawabku.

Aku pun langsung pulang ke kos, tetapi tidak ada orang yang aku temui disana. Aku langsung masuk ke dalam kamar dan menonton film kesukaanku yaitu Running Man. Setelah beberapa jam, aku keluar sejenak untuk melihat apakah ada temanku yang pulang. Akan tetapi, masih tidak ada orang. Jadi aku putuskan untuk pulang. Saat itu, aku lupa bahwa Winda akan datang ke kosku untuk menitipkan motornya.

***
Setelah sampai di rumah, aku langsung tidur karena kelelahan. Setelah beberapa menit, aku terbangun dan jam sudah menunjukkan 12.00 WITA. Dan aku langsung pergi mandi. Setelah itu, makan siang dan langsung berangkat. Aku berangkat sekitar jam 12.50 WITA. Tiba-tiba temanku menelpon yakni Yuna.

“Halo, tolong cepetan datang donk?” kata Yuna ketakutan.

“Kenapa Yuna, sudah mau jalan ke kita?” tanyaku takut.

“Tidak, tetapi tidak ada teman kelas kita disini, cepetan datang ya!” tanya nya dengan khawatir.
“Iya,” kataku.

***
Setelah tiba di kos, aku teringat dengan Winda. Dan aku langsung menggembok ban motorku. Kemudian, aku berjalan menuju halte untuk mendapatkan bemo yang akan mengantarkan aku ke terminal.

“Ke terminal, Pak cepet!” kataku.

Setelah naik ke bemo, tiba-tiba ada pesan yang di Hpku. Dan itu adalah Ariel.

Cepetan dateng! Sms Ariel.

Iya tunggu sebentar, baru aku naik bemo ini! Balesku.

Setelah hampir sampai di terminal, ternyata Ariel mengirim pesan lagi.

Cepetan, sudah mau baris kita ini!  Kiriman Ariel.

Beneran? Balesku.

Iya. Kiriman Ariel.

Setelah beberapa menit, sampailah aku di pom bensin sedikit jauh dari terminal.
“Adek, ada bemo di belakang kayaknya tidak bisa saya anter ke terminal, soalnya saya mau anter orang lain ke SB, tidak perlu bayar dah Dek.” kata Sopir Bemo.

Setelah turun dari bemo, aku melihat ke belakang tetapi tidak ada bemo satupun yang melintas. Sekarang aku menyadari, ternyata sopir bemo itu telah membodohi aku. Aku begitu kesal sekali kepadanya. Hampir saja aku menyorakinya tetapi, karena begitu banyak orang disekitarku jadi, sorak yang akan aku keluarkan aku pendamkan. Setelah itu, aku melihat siswa sekolah lain sudah baris dan jalan melewati pom bensin dan seterusnya. Aku sangat panik, dan tidak tahu harus melakukan apa.

Awalnya aku mengatakan dalam hatiku, bahwa aku tidak ingin ikut pawai kalau begini jadinya. Tapi, karena aku sudah sampai disini, aku memutuskan untuk berjalan saja, daripada harus berdiri di dekat pom bensin itu. Aku berjalan dan terus berjalan. Di tengah perjalananku menuju ke terminal, semua orang melihatku. Karena pada saat itu, Cuma aku yang berlari seorang diri dengan pakaian dokter. Sedangkan ada juga anak lain yang terlambat seperti aku, tetapi alangkah beruntungnya dia karena ia diantar oleh ayahnya atau yang semacamnya.

Setelah aku sampai di lampu merah dekat dengan PTC, aku pun berhenti karena saat itu aku masih bingung dan bertanya-tanya di mana kira-kira barisan sekolahku berada. Kemudian, ada juga siswa sekolah lain yang berhenti di depan ku yang penyebabnya sama denganku tetapi, lama-kelamaan dia menemukan teman sekolahnya. Aku semakin panik, tiba-tiba hpku yang berbunyi, setelah ku buka ternyata pesan dari Ariel.

Cepetan, udah mau baris kita ini,!. Sms Ariel.

Iya, sebentar, sebentar aja. Sms dariku.

Setelah lama berdiri didekat lampu merah, aku pun langsung menuju ke PTC dengan menyebrang jalan dan ada juga polisi yang membantuku untuk menyebrang karena saat itu, di jalan sangatlah ramai.

“Mau menyebrang Dek?” tanya seorang polisi kepadaku.

“Iya, Pak.” jawabku

“Mari, Bapak bantu?” tanya polisi tadi lagi.

“Terimakasih,Pak.” jawabku lagi.

Setelah menyebrang, aku pun berlari melewati kerumunan orang. Akan tetapi, karena jalan luas, aku semakin bingung. Setelah lama kemudian, aku pun langsung mendapatkan jalan keluar dari jalan luas itu. Kemudian aku pun mengsms Ariel.

Rini sudah sampai dimana itu dan dibagian mana tempetmu? Smsku ke Rini.

Setelah ku periksa hpku ternyata, pulsaku langsung habis. Aku langsung panik lagi, aku langsung berpikir apakah mereka sudah berjalan? tetapi dari tadi aku tidak melihat banner smansa selong? Deh, Pikirku. Setelah itu, aku memutuskan untuk tetap berjalan menuju ke tengah PTC untuk melihatnya secara keseluruhan. Aku melewati begitu banyak orang, dan melihat sekolah lain sudah mulai berbaris dan berjalan. Tetapi, aku tetap mencoba untuk berjalan. Aku berhenti di bawah pohon apalah namanya aku tidak tahu. Dan setelah lama melihat-lihat ke kiri, kanan, dan depan.

Aku mendengar sebuah suara kecil yang memanggil namaku dari jauh. Setelah bingung mencari di mana kira-kira suara itu berasal. Ternyata ada temanku yang melambaikan tangannya kepadaku dan itu adalah temanku yang mengirim pesan singkat kepadaku tadi yaitu Ariel. Aku sangat bersyukur dan senang sekali karena aku susah payah sekali sampai di tempat yang aku inginkan seperti mengerjakan sebuah petualangan saja. Setelah itu, kami langsung berbaris dan berjalan hingga Tugu Selong.

SELESAI


--------------------------------------------------
Sinopsis
Ini ceritaku yang bersekolah di SMAN 1 SELONG. Ini menceritakan tentang aku yang pawai kemerdekaan Indonesia yang daiadakan oleh sekolahku. Semua kelas atau siswa siswi harus mengikuti pawai tersebut dan berkumpul di PTC pada jam 13.00 WITA harus ada di sana. Saat waktunya untuk pawai, aku berangkat dari rumah dan meletakkan motorku di kos ku. Suasana semakin menegangkan Aku langsung mencari dan menaiki bemo. Tiba-tiba, di tengah perjalanan si sopir bemo itu mengatakan bahwa ia tidak bisa mengantarkan aku ke PTC. Aku sangat kaget mendengar kata tersebut keluar dari kata sopir bemo itu.

--------------------------------------------------
Biodata Penulis
Rindiani Rossalinda, akrab dipanggil Rossa. Gadis kelahiran 18 Juni 2000  ini berasal dari Pringgasela dan sekarang dia bertempat di Selong. Saat ini ia sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Selong, tepatnya sedang duduk di bangku kelas XI. Sebelumnya ia menempuh pendidikan di SD Negeri 6 Pringgasela, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Pringgasela.

Ia sangat senang menulis dan membaca buku. Segala keluh kesahnya selalu ia luapkan pada keyboard laptop. Baginya menulis adalah hal yang sangat menyenangkan dan membahagiakan. Ia tidak peduli bagaimananpun hasil penulisannya, yang paling penting ia sudah mencurahkan apa yang mengganjal dalam hatinya.

Ia selalu mengatakan dalam hatinya, bahwa segala masalah yang berat baginya adalah dengan menjalani masalah atau tugas dengan sesuka hati, jangan menjadi orang yang selalu mengeluh pada masalah tersebut. Karena, dengan mengeluh kepada masalah tersebut malah menjadikannya menjadi susah untuk menyelesaikan masalah dan bahkan tidak bisa mengerjakan masalah atau tugas sama sekali. Dan dia selalu menemukan jalan keluar dari masalah tersebut dengan cara menjadikan masalah tersebut menjadi seorang teman yang akan selalu membantunya untuk mencapai masa depannya yang akan datang nanti.

Untuk mengenal penulis lebih lanjut dan memberikan kritik serta saran seputar karya penulis, yuk add facebook Ocha Rossa dan follow WhatApp rindianirossalinda.